Sepanjang Tahun 2019, Politik Tensi Tinggi Warnai Pesta Demokrasi Indonesia

admin

NASIONAL – CNN

Sepanjang tahun 2019, tensi tinggi politik mewarnai Negeri Pertiwi ini. Tahun 2019, pemilihan umum serentak, pemilihan DPRD, DPD, DPR hingga Pemilihan Presiden di gelar pada tahun ini. Yang menjadi sorotan luar biasa dari masyarakat ialah pesta demokrasi pemilihan Presiden.

Joko Widodo atau yang sering disebut Jokowi yang bertindak sebagai Inkumben maju kembali dan berhadapan dengan rival abadinya, yaitu Prabowo Subianto. Mereka bertarung dengan menggandeng pasangan yang berbeda dari perhelatan pemilihan Presiden lima tahun sebelumnya.

Pada 2019 ini, Jokowi berkolaborasi dengan ulama besar, KH Ma’ruf Amin, sedangkan Prabowo menggaet pengusaha succes yang juga merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu, yakni Sandiaga Uno.

Perjalanan Pemilihan Presiden yang sarat gengsi dipenuhi dengan energi yang begitu luar biasa akhirnya dimenangkan oleh Pasangan Jokowi – Ma’ruf. Berikut ulasan politik tensi tinggi sepanjang tahun 2019.

Sesaat sebelum penunjukan cawapres untuk pendamping Jokowi, sempat terjadi drama. Kala itu keputusan berubah sejam sebelum pengumuman cawapres. Mahfud Md yang semula sudah sesumbar menjadi cawapres, tersingkir di menit ahir. Jokowi akhirnya mengumumkan menunjuk serta memilih Ma’ruf Amin. “Kami saling melengkapi, nasionalis-religius,” terang Jokowi saat mengumumkan pilihannya kepada wartawan di Restoran Plataran Menteng, Jakarta pada Kamis malam, 9 Agustus 2018.

Dalam pembicaraan di antara para pemimpin partai koalisi Jokowi sebelumnya, mereka bersepakat bahwa calon wakil Jokowi pada 2019 adalah tokoh yang tak akan maju sebagai calon presiden pada 2024. Sepeninggal Jokowi, partai koalisi ingin peluang bagi mereka untuk mengusung calon sendiri terbuka lebar. Calon wakil presiden pada 2019, bila kelak terpilih, berpeluang besar menjadi presiden selanjutnya.

Kemudian, setelah mendaftar sebagai calon presiden ke KPU pada 10 Agustus 2018, butuh waktu hampir sebulan bagi Jokowi untuk memutuskan nakhoda tim kampanyenya. Sejumlah sumber yang dilasir di situs Tempo menyebut, Jokowi sempat meminta jurnalis Najwa Shihab dan Founder Gojek Nadiem Makarim untuk memimpin tim kampanye nasional. Namun, keduanya menolak.

Pada akhirnya, pilihan pun jatuh kepada Erick Thohir, yang kini menjadi Menteri BUMN. Jokowi, menurut para sumber itu, terkesan oleh prestasi Erick menyelenggarakan Asian Games 2018. Pembukaan yang meriah serta banjir pujian dari berbagai negara, membuat Jokowi kesengsem terhadap Erick. Bos Mahaka Group itu pun menerima pinangan Jokowi.

Sementara itu, sejak pasangan Jokowi-Maruf mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum pada 10 Agustus 2018, elektabilitasnya cenderung mandek. Tak ada lembaga survei yang menyebutkan tingkat keterpilihannya berada di kepala enam. Sedangkan Prabowo-Sandiaga justru merangkak naik meski tipis.

Empat bulan menjadi calon wakil presiden, Ma’ruf Amin dianggap tak mendongkrak tingkat keterpilihan Jokowi. Survei menunjukan, tak semua kalangan Islam menerima Ma’ruf. Latar belakangnya sebagai pengurus Nahdlatul Ulama membuatnya tertatih-tatih mendekati Muhammadiyah, yang juga memiliki suara besar.

Jokowi terus memacu agar tim bekerja lebih keras. Upaya Jokowi mendongkrak elektabilitas tak hanya dilakukan oleh tim resmi, tapi juga oleh sejumlah tim bayangan, seperti Cakra 19, Bravo 5 kelompok purnawirawan yang dipimpin Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan banyak relawan lainnya.

Bahkan tim Jokowi juga didukung sejumlah peralatan canggih. Sumber di tim bayangan Jokowi yang juga mengurus media sosial bercerita, di luar mesin Tim Kampanye, ada mesin bernama “Corona” yang dikelola sekelompok ilmuwan.

Mesin ini bisa menghimpun berbagai informasi dalam berbagai bentuk: teks, audio, gambar, atau video, dari dunia maya, lalu menganalisis sentimen positif atau negatif, kemudian memprediksi efeknya terhadap Prabowo. Hasil kerja Corona diserahkan kepada tim Jokowi setiap hari.

Meski didukung kecanggihan teknologi, tetap saja elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tak meroket. Wakil Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf, Eriko Sotarduga, mengungkapkan elektabilitas pasangan itu sudah mentok. “Yang bisa dilakukan hanya memaksimalkan dukungan yang sudah ada dan menarik undecided voters,” ungkapnya.

Bermodalkan jumlah penduduk paling banyak, Jawa menjadi kunci kemenangan bagi Paslon. Jumlah pemilih di Pulau Jawa mencapai 110,68 juta atau 57,39 persen dari total 192,828 juta pemilih di dalam negeri. Pasangan yang unggul di Jawa hampir pasti memenangi pemilihan presiden.

Di tiga provinsi dengan pemilih terbanyak, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dua kubu merangsek ke kantong suara lawan. Jokowi tak ingin mengulangi kekalahan telak di Jawa Barat pada 2014, sedangkan Prabowo-Sandi berupaya menggedor Jawa Tengah, yang menjadi kandang partai banteng, PDI Perjuangan. Di Jawa Timur, dua seteru berupaya merebut restu kiai dan menguasai titik-titik vital, yaitu Tapal Kuda, Mataraman, dan Madura.

Usai melewati lima kali debat capres-cawapres dan sembilan bulan masa kampanye, Jokowi memenangkan hasil hitung cepat Pilpres 2019. Perolehan suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjaga keunggulan Jokowi secara nasional, meski Prabowo merebut tiga provinsi yang dimenangi inkumben pada 2014, yakni Jambi, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan, serta menang besar di basis lamanya, seperti Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, dan Aceh.

Selisih suara yang lebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta banyaknya jumlah pemilih di sana menjadi faktor kemenangan Jokowi. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional, Arsul Sani, menyebut keunggulan Jokowi yang tebal di dua provinsi itu berkat kolaborasi kelompok abangan dan para santri nahdliyin.”Koalisi abang-ijo solid,” ucap Arsul.

Abangan diasosiasikan dengan kelompok nasionalis, sedangkan ijo merujuk pada kalangan santri. Jawa Tengah juga dikenal sebagai basis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, penyokong utama Jokowi.

Setelah Komisi Pemilihan Umum mengumumkan hasil penghitungan suara pada 21 Mei dinihari, sejumlah pendukung Prabowo turun ke jalan. Mereka mendesak Badan Pengawas Pemilu menyatakan terjadi kecurangan. Unjuk rasa kemudian berujung rusuh dan menyebabkan sembilan orang tewas.

Kemudian, pada 23 Mei 2019, Wakil Presiden Jusuf Kalla bertemu Prabowo Subianto di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Kalla meminta Prabowo menghubungi para pendukungnya agar tak turun lagi ke jalan. “Di depan saya, beliau menelepon semua orangnya untuk menghentikan semua aksi,” beber Kalla pada Selasa, 4 Juni 2019.

Usai kerusuhan berhasil diredam, Prabowo-Sandiaga menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, akibat kurangnya bukti, gugatan Prabowo-Sandiaga kalah. Kamis, 27 Juni 2019, Ketua Majelis Hakim Konstitusi Anwar Usman mengetok palu menolak gugatan Paslon nomor urut 02 itu.

Kekalahan di Mahkamah Konstitusi sebetulnya sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh Sandiaga Uno. Menurut Sandi, Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga menyiapkan gugatan tersebut secara kilat. “Kemungkinan (menang) ke Mahkamah Konstitusi sangat kecil,” papar Sandi.

Usai sidang MK, Jokowi mengupayakan rekonsiliasi dengan bekas penantangnya itu. Tiga jenderal diutus menemui Prabowo, mereka adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Luhut Binsar Panjaitan, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko, dan Jenderal Polisi (Purnawirawan) Budi Gunawan.

Dari tiga jenderal utusan tersebut, Budi Gunawan yang berhasil mencetak gol dan menghasilkan pertemuan antara Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus pada Sabtu, 13 Juli 2019.

“Pak BG yang mencetak gol. Dia yang mendribel bola dan menggolkan ke gawang yang selama ini tidak bobol,” kata Sandiaga Uno seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 22-28 Juli 2019.

Masih menurut Sandi, Prabowo dan Budi Gunawan bertemu beberapa kali untuk mencapai kesepakatan. Salah satunya di Bali. Tapi Sandiaga tak mengetahui persis isi pertemuan tersebut. Yang jelas, kata Sandiaga, “Pak BG bisa menjawab dengan konkret apa yang diinginkan Pak Prabowo.” Karena itulah, menurut Sandiaga, pertemuan Jokowi dan Prabowo terealisasi.

Lebih jauh Sandi menjelaskan, Pascakerusuhan 21-22 Mei dan banyak pendukung Prabowo-Sandi yang dicokok polisi, Prabowo juga bertemu dengan Budi Gunawan. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang mempertemukan keduanya di bilangan Kebayoran Baru pada Senin, 27 Mei 2019. Ketika itu, Prabowo meminta para pendukungnya tak ditahan. Dasco kemudian mengajukan diri sebagai penjamin pendukung pasangan 02 yang ditahan. Sebanyak 130 pendukung Prabowo-Sandi akhirnya dilepaskan polisi.

Presiden terpilih Jokowi-Ma'ruf
Presiden terpilih Jokowi-Ma’ruf

Kini, Jokowi dan Prabowo telah benar-benar rekonsiliasi. Prabowo masuk ke dalam Kabinet Indonesia Maju sebagai Menteri Pertahanan. Selain Prabowo, Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo juga masuk ke kabinet Jokowi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Semoga dibawah Kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf, Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa lebih maju, adil dan sejahtera. (NET)

www.cakrawalanusantaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sosial Media ‘Roket’ yang Bisa Menembus Ruang dan Waktu

Share this on WhatsAppDitulis Oleh : Agung Jaelani Redaktur Pelaksana SKI Cakrawala Nusantara & Media Online www.cakrawalanusantaranews.com “Dengan segala kebebasan pers juga informasi sekarang ini yang begitu mudah didapat, media harus lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak mudah menggoreng suatu isu. Media harus pandai menempatkan posisi dimana ia harus […]
Redaktur Pelaksana

Subscribe US Now

WhatsApp chat