Aksi “ Tidak Biasa ” Institut Drawing Bandung di RPH

admin

BANDUNG – CNN

Kota Bandung nyatanya memiliki Rumah Pemotongan Hewan (RPH) terbaik dalam proses dan pengolahannya. Bangunan dan juga perlengkapan mekanisme pemotongan hewan di RPH yang dibangun di masa kolonial tahun 1935 itu hingga kini masih terjaga, meski beberapa perlengkapan teknis di antaranya tidak berfungsi sempurna. Namun, tidak mengurangi nilai-nilai heritage yang masih eksis hingga kini.

Di masa-masa kolonial ada kisah bahwa daging dari RPH ini pernah juga didistribusi ke Tanjung Priok dengan kereta api dan menjadi bahan ransum tentara Jerman. Selain itu daging hasil pemotongannya juga untuk konsumsi warga Bandung yang kala itu banyak dihuni dan dikunjungi oleh bangsa Eropa berkelas, bahkan di hingga sekarang pun daging hasil pemotongan di sini masih dipandang baik kualitasnya.

Namun bukan hal itu saja informasi yang menarik perhatian komunitas yang menamakan dirinya Institut Drawing Bandung (IDB). Mereka adalah alumni Seni Rupa ITB dan perguruan tinggi lainnya yang kerap menyelenggarakan giat menggambar obyek-obyek menarik di berbagai tempat. Plein air, istilahnya. Desember lalu IDB eksis di peringatan seabad Gedong Tjai Tjibadak 1921 di kawasan Ledeng, Cidadap, Kota Bandung. Mereka malakukan aksi gambar karena ketertarikannya kepada gedung dan kawasan tersebut memiliki nilai heritage dan konservasi lingkungan hidup yang tinggi serta perlu dilestarikan.

Begitu juga gedung RPH Kota Bandung yang berlokasi di Jalan Arjuna 45, Bandung. Gedung tersebut merupakan UPT milik Dinas Ketahanan Pangan & Pertanian (DKPP) Kota Bandung yang juga berkantor di situ. Di atas lahan sekira 3 hektar itu  berdiri kantor DKPP Kota Bandung sebagai bagian dari komplek RPH dan selebihnya merupakan lahan yang digunakan untuk percontohan urban farming dengan programnya yang booming yaitu  “Buruan SAE.” Buruan SAE dari Kota Bandung itu sendiri rupanya  sudah dikenal ke mancanegara.

Kunjungan spontan IDB ke RPH diterima langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan & Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar. “Kami menyambut baik kunjungan IDB atas perhatiannya terhadap nilai heritage di gedung ini dan ketertarikannya kepada program Buruan SAE yang juga  perlu dilestarikan,” tutur Gin Gin saat berbincang dengan komunitas IDB di halaman RPH Senin (24/01/22).

Sebelum melakukan aksi gambarnya mereka diajak “tour” ke seputar komplek gedung RPH yang dibangun 87 tahun yang lalu oleh pemerintahan Belanda kala itu dan arsiteknya dikenal dengan nama Brinkman. Mengingat usia bangunan itu sejak tahun 2009 RPH termasuk gedung yang dilindungi oleh Perda Cagar Budaya Kota Bandung.

Tetamu dari IDB yang tercatat sebelas orang itu dibuat kagum dan juga banyak yang terperangah melihat bangunan dan fasilitas mekanisme  proses pemotongan hewan yang sangat bernilai sebagai bangunan cagar budaya.

“Selama saya jadi orang Bandung hanya tahu hilirnya saja,” kata Isa Perkasa yang akrab disebut sebagai “rektor” institut ini. “Saya baru tahu bahwa daging yang kita konsumsi itu melewati berbagai proses di gedung ini,” lanjutnya.

“Saya juga sering melewati gedung ini dan  hanya tahu bagian depannya saja. Ternyata di dalamnya begitu luas…. Luar biasa!” ujar Yus R Arwadinata, dikenal sebagai pelukis perangko asal Bandung dan pernah juga melukis lembaran uang kertas kita. Lalu, Yus dengan antusias bertanya ini-itu kepada Kepala UPT RPH, Endang Priatna dan juga langsung kepada Kepala DKPP yang menyertai tour tersebut.

Sementara Hawe Setiawan, budayawan, dosen dan juga suka disebut-sebut sebagai “Jurnalis Kabuyutan” ini menyampaikan keingintahuannya tentang RPH lebih jauh selain sebagai obyek lukisan yang kasat mata,  juga tertarik kepada hal-hal yang sifatnya intangible. “Hal éta pasti seueur,” ucapnya.

“Dengan ditetapkannya gedung ini sebagai bangunan cagar budaya, kami juga ingin menjadikannya nilai tambah bagi DKPP Kota Bandung. Kawasan ini bisa juga digunakan sebagai ruang publik untuk berkreasi dan berkolaborasi dalam melayani masyarakat, selain sebagai sarana edukasi dan sosialisasi visi dan misi yang kami emban. Sebelum terkendala pandemi DKPP juga sebulan sekali menyelenggarakan kegiatan rutin yang disebut Bandung Agri Market,” kata Gin Gin. Menurutnya, saat ini pun DKPP Kota Bandung telah dan tengah berkolaborasi dengan pihak-pihak yang keahliannya berkenaan dengan kelestarian bangunan cagar budaya.

Ucapan “Pa Kadis” ini langsung disambut Isa Perkasa. Isa yang akrab dengan aktivitas kurator lukisan dan juga sebagai art performer, melihat ada satu ruang di komplek tersebut yang kental nuansa heritagenya dan bagus  untuk digunakan sebagai galeri atau pameran karya-kaya IDB serta para seniman lukis lainnya di Kota Bandung. Tentu saja karya-karya seninya harus relevan dengan visi dan misi DKPP Kota Bandung. “Urang agéndakeun!” tegas Isa sumringah.

Usai berkeliling ke berbagai sudut di komplek RPH, “kesebelasan” IDB itu masing-masing memilih tempat untuk berkreasi, melukis obyek bernilai heritage tersebut dari sudut-sudut   yang menarik dan diminatinya. Di jeda waktu mereka mendaulat “Pa Kadis” sebagai model lukisan dan “dikeroyok” oleh para seniman yang ternyata juga piawai melukis profil Gin Gin Ginanjar dengan akurat dan cepat.

Kegiatan yang “tidak biasa” di halaman RPH itu tak urung jadi perhatian para ASN lingkungan DKPP di jeda waktu kerjanya. Di pengujung kegiatan ini, para pelukis menggelar karya-karyanya berlatar rerumputan di sudut taman halaman RPH. Beberapa karya IDB pun ada yang dipersembahkan kepada DKPP sebagai kenangan dan wujud terima kasih atas sambutan hangat para aparat DKPP.

Mareka lalu diperkenankan memanen berbagai sayuran di kebun percontohan yang ditanam secara hidroponik dan di media OTG (Organic Tower Garden). Kedua cara tanam itu pun merupakan salah satu kegiatan unggulan DKPP dan dipopulerkan melalui program Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomi).

Di tengah suasana kebersamaan hangat yang “horisontal”  antara warga masyarakat dan Pemerintah melalui DKPP Kota Bandung ini terhidang juga ulén, goreng singkong dan ragam sayuran organik yang baru saja dipetik. Saat mencicipi renyah dan segarnya pare (paria) dan tomat ceri organik yang baru saja dipetik, terdengar celetukan dari Yus R Arwadinata, “Enak, henteu pait..Tuh ya, kita juga sepertinya harus melestarikan Buruan SAE ,”  ujarnya. (Agung Jaelani/A.R.N)

www.cakrawalanusantaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pemerintah Desa Cipedes Gelar “Soft Launching Wisata Sungai Purba CISETRA dan Edukasi Wisata”

KUNINGAN – CNN Cisetra merupakan salah satu sungai purba yang dahulu kala berada di dasar laut di kedalaman 0 sampai 200 MDPL, karena pergerakan dua lempeng sehingga naik ke permukaan. Sungai Cisetra satu-satunya sungai purba di Kuningan. Sesuai hasil penelitian dari Persatuan Pemandu Geo Wisata Indonesia (PGWI) dan Lembaga Ilmu […]

Subscribe US Now

Need Help?