Kategori: PENDIDIKAN

  • Sosial Media ‘Roket’ yang Bisa Menembus Ruang dan Waktu

    Sosial Media ‘Roket’ yang Bisa Menembus Ruang dan Waktu

    Ditulis Oleh : Agung Jaelani
    Redaktur Pelaksana
    SKI Cakrawala Nusantara & Media Online
    www.cakrawalanusantaranews.com

    Dengan segala kebebasan pers juga informasi sekarang ini yang begitu mudah didapat, media harus lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak mudah menggoreng suatu isu. Media harus pandai menempatkan posisi dimana ia harus menjadi independent tanpa menghilangkan sifat khasnya yaitu mempublikasikan dan memberi pesan yang bersifat universal dan diterbitkan berkala serta berkesinambungan,”

     

    Semenjak internet begitu mudah diakses oleh siapa saja, keberadaan media sosial menjadi tempat yang ramai dikunjungi para anak muda, dewasa, orangtua, bahkan semua lintas kalangan dari belahan dunia manapun.

    Mereka bisa bebas berekspresi, bebas menyampaikan pendapat, bebas menyerap informasi, bisa mendapatkan teman dari mana saja, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan di media sosial. Bahkan, aktifitas jual beli, mencari pekerjaan, hingga belajar ilmu pengetahuan apapun juga bisa dilakukan melalui media sosial.

    Namun, tentu saja peran sosial media menyimpan persoalan-persoalan. Persoalanya adalah, perkembangan teknologi informasi tak hanya memberikan dampak positif, tapi juga memberikan dampak negatif. Kecepatan penyebaran informasi dan banyaknya anak muda yang mengakses internet, diduga menjadi ajang pemanfaatan oleh sejumlah pihak atau oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk menebar propaganda radikalisme, menebar ujaran kebencian melalui konten-konten yang sengaja mereka produksi. Hal demikian kita bisa lihat tentunya dari maraknya pemberitaan di media massa, seperti televisi, website/ online media bahkan di media cetak sekalipun.

    Baik itu dalam bentuk tulisan, gambar ataupun video. Seperti halnya di sepanjang tahun 2019, yang merupakan tahun politik. Tensi politik yang begitu tinggi, tanpa disadari energi masyarakat tersedot kedalam politik itu sendiri. Penyebaran-penyebaran konten negative semakin masif untuk menjatuhkan atau menaikan elektabilitas pasangan calon.

    Kondisi tersebut tentunya sangat berpotensi mengganggu kerukunan dan toleransi yang selama ini  sudah terjaga baik di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena pihak-pihak atau oknum – oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut, sengaja memprovokasi dengan sentimen SARA.

    Mengakibatkan, masyarakat yang menelan bulat-bulat informasi tersebut tanpa menyaring atau mencari kebenaran informasi yang muncul, tentunya akan mudah terprovokasi. Apalagi sudah mulai banyak tokoh politik, tokoh masyarakat, bahkan tokoh agama yang aktif memberikan pernyataan provokatif. Banyak contoh di Indonesia yang seharusnya bisa kita jadikan pembelajaran terkait hal ini. Banyak orang yang telah ditahan karena cuitannya. Banyak orang yang ditahan karena provokasi di media sosial.

    Media massa di era globalisasi seperti sekarang ini memiliki pengaruh yang sangat besar. Informasi yang selalu ‘berseliweran’ setiap detik, menitnya menjadikan media massa mempunyai peran yang krusial. selain sebagai pemberi informasi bagi pembaca, media juga berperan sebagai penyaji beragam informasi yang bisa ditanggungjawabkan sehingga jatuhnya tidak menjadi hoax.

    Media di zaman sekarang harus memiliki sumber yang akurat dan terpercaya. Selain karena sifat generasi sekarang yang diduga cenderung ‘malas’ untuk mencari suatu kebenaran berita yang mereka terima, generasi sekarangpun cenderung menerima informasi sealakadarnya, tidak perlu benar atau salah yang penting bisa mewakili kepentinganya.

    Sebagai contoh, aktivis Ratna Sarumpaet misalnya. Foto babak belurnya mampu menjadi Hot News. Fotonya begitu cepat menyebar, masyarakat ‘menggoreng’ isu hingga kasus ini menjadi begitu luar biasa.

    Dari kasus itu kita melihat, bahwa media sebagai pionir penginformasi khalayak luas, harus berdiri ditengah, tidak langsung menggoreng isu karena pemberitaan itu bombastis, namun memeriksa kebenaran apa yang terjadi sesungguhnya. Media yang ideal selain dapat memberi informasi pada khalayak tentang apa yang terjadi di sekitarnya juga bisa memberi pendidikan berdasarkan fakta.

    Dalam media sosial Instagram saja contohnya yang kini sangat digandrungi oleh kaula muda millenial jaman now sering dijadikan suatu titik tolak acuan bahwa informasi itu benar terjadi. Dari hal tersebut kita langsung bisa membedakan mana media yang benar-benar murni pemberitaanya dengan melakukan check and rechechk atau hanya ikut masuk pusaran informasi yang tidak jelas sumbernya

    Terkadang kita susah mendapat suatu pemahaman dari kebenaran suatu isu karena tidak ada kesesuaian situasi objektifnya, oleh karenanya, presentasi informasi dan persepsi jurnalis dalam suatu suguhan berita harus merujuk pada suatu fakta. Selain itu diperlukan suatu filter sehingga informasi yang dihasilkan memang murni dan relevan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.

    Peran serta media massa selain sebagai wahana komunikasi yang didalamnya berisi kegiatan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, media juga berperan sebagai wahana pendidikan. Fungsi utamanya tentu untuk memberi ruang pada masyarakat terutama generasi sekarang dalam mempelajari beragam hal yang kadang tidak hanya mereka dapatkan jika hanya mencari dari literatur-literatur buku yang ada di perpustakaan/toko-toko buku misalnya.

    Sebagai media yang hadir di zaman serba canggih dengan segala macam problematika kehidupan yang terjadi, media massa sekarang harus lebih memberi ruang pada publik untuk  bisa mendiskusikan setiap permasalah baik itu politik, ekonomi dan lain sebagainya yang tengah menghangat.

    Banyak cara yang bisa dilakukan, baik itu di media cetak atau media daring misalnya. Pemberian konten atau rubrik opini yang penulisnya adalah dari masyarakat itu sendiri bisa dijadikan pilihan utama, sehingga menjadi suatu ruang atau wadah untuk mencurahkan segala pendapatnya.

    “Dengan segala kebebasan pers juga informasi sekarang ini yang begitu mudah didapat, media harus lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak mudah menggoreng suatu isu. Media harus pandai menempatkan posisi dimana ia harus menjadi independent tanpa menghilangkan sifat khasnya yaitu mempublikasikan dan memberi pesan yang bersifat universal dan diterbitkan berkala serta berkesinambungan,”.

    Meringkas penuturan yang disampaikan diatas, muncul sebuah pertanyaanya bagi kita. Sebagai tombak penerus bangsa, apakah para generasi milenial juga akan ikut sebagai penebar kebencian di media sosial? Apakah kita juga akan menjadi provokator di media sosial? Jika diantara kita saat ini sudah terlanjur menabur benih-benih kebencian di sosial media, TOLONG HENTIKAN!!.

    Marilah kita sebarkanlah pesan kedamain yang mampu menyejukkan semua orang. Jangan bangkitkan amarah orang lain hanya karena alasan perbedaan politik atau karena perbedaan ideologi atau keyakinan dan sudut pandang. Kita semua ini bersaudara, didalam kebhinekaan atau bhineka tunggal ika, bahwa berbeda tapi satu jua.

    Marilah kita jadikan dunia maya, sosial media sebagai wadah atau tempat untuk saling berdikusi tentang hal-hal positif, sesuatu yang bisa saling menambah wawasan dan mencedaskan sesama penggunanya serta bisa memberikan ruang kedamainan bagi seluruh warganet.

    Mulai sekarang dan seterusnya, Marilah kita cerdas menggunakan sosial media. Mari kita dorong semua warganet untuk menguatkan budaya literasi. Pandai di sosial media akan menghindarkan diri dari segala pengaruh buruk. Pintar bersosial media bisa menekan tingkat kebencian atau isu provokasi dan sebagainya.

     

  • Pemdes Ciaro Bagikan Insentif Untuk Guru PAUD

    Pemdes Ciaro Bagikan Insentif Untuk Guru PAUD

    NAGREG – CNN

    Pemerintahan Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung kembali memberikan kegembiraan kepada warga masyarakatnya. Sedikitnya 300 tenaga pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta tokoh masyarakat dan guru mengaji yang ada di wilayahnya mendapatkan insentif dari pemerintah desa.

    Tunjangan operasional atau insentif yang diberikan Pemdes Ciaro berupa uang tunai sebesar Rp 150.000 untuk setiap guru PAUD/pengajar mengaji diturunkan setiap akhir tahun. Untuk tahun ini, adalah tahun yang kedua yang diberikan pemerintah desa pada masa kepemimpinan Wawan sebagai kepala Desa.

    Salah seorang tokoh masyarakat, Kiki Masduki, mengatakan bahwa pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kades Wawan yang telah menganggarkan insentif untuk guru PAUD, Diniyah, dan pengajar mengaji dalam APBDes dalam dua tahun terakhir ini.

    “Alhamdulillah, atas nama pribadi dan masyarakat mengucapkan terima kasih kepada bapak kepala desa yang sudah merangkul semua lapisan masyarakat dan pemuda. Dengan adanya acara ini mudah-mudahan menjadi berkah dan amal yang saleh,” ujarnya.

    Lebih lanjut ia berpesan, agar jangan melihat besar kecilnya bantuan, tapi agar menjadi kebaikan bersama. Terkait masa jabatan Kades Wawan yang berakhir di tahun 2020, Masduki berharap pemerintahan desa Ciaro kedepannya akan lebih baik lagi.

    Hal senada juga disampaikan oleh Solehudin anggota masyarakat desa Ciaro. Menurutnya, pemberian insentif ini sangat bermanfaat sekali untuk membangkitkan gairah para pengajar, khususnya PAUD di desa Ciaro. Karena tidak mendapatkan gaji seperti guru guru di sekolah. (Emur Permadi)

     

  • 26 Desember 2004 – 26 Desember 2019, 15 Tahun Silam Mengenang Gempa dan Tsunami Aceh, Bencana Terparah yang Menewaskan Ratusan Ribu Jiwa

    26 Desember 2004 – 26 Desember 2019, 15 Tahun Silam Mengenang Gempa dan Tsunami Aceh, Bencana Terparah yang Menewaskan Ratusan Ribu Jiwa

    “Bahwa Tsunami Aceh telah menggugah nurani dunia, berbagai negara dan NGO datang bersolidaritas. Kita pun sebagai anak bangsa ikut peduli, bersama sama tanpa memandang suku, ras, agama, ikut andil. Momen ini penting sekali dan modal menjadi bangsa kuat, “

    ACEH – CNN

    Minggu, 26 Desember 2004, tepatnya pukul 08.58 WIB, gempa berkekuatan magnitudo 9,1 mengguncang laut Samudra Hindia. Pusatnya berada di 160 kilometer arah barat, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Gelombang tsunami yang dahsyat menghantam Aceh dan beberapa wilayah di Samudra Hindia. Lima belas tahun berlalu, bencana alam yang amat mematikan ini, masih memberikan luka tersendiri bagi para korban.

    Dilansir melalui situs resmi Kompas.com, tsunami aceh terjadi karena adanya interaksi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Sebelumnya, gempa besar dengan magnitudo 9,0 terjadi berpusat di dasar laut pada kedalaman 10 kilometer. Gempa terjadi sekitar 8-10 menit.

    Setelah gempa yang panjang dan memiliki magnitudo besar, gelombang pasang menyerbu pantai didahului surutnya air laut. Kemudian, diikuti oleh gelombang yang sangat besar.

    Gelombang tsunami menerjang daratan dan masuk ke dalam kota. Diperkirakan gelombang tsunami yang menghantam pesisir Aceh setinggi 30 meter. Kecepatannya mencapai 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam.

    Bentuk geologi pantai di Aceh tergolong rumit. Di daerah itu teluk yang berasosiasi dengan tanjung telah menyebabkan konsentrasi energi gelombang di sekitar tanjung.

    Tsunami yang tergolong jenis far field ini memiliki perambatan hingga 1.000 km lebih. Tsunami yang muncul akibat gempa pertama di Aceh penjalarannya ke utara dan barat laut hingga ke Sri Lanka dan Maladewa, masing-masing sekitar dua dan tiga jam setelah gempa Aceh.

    Sementara ke arah selatan, tsunami menerjang Pulau Simeulue, setengah jam kemudian. Adapun gelombang pasang sampai ke Pulau Nias satu jam, lalu ke Kepulauan Mentawai satu setengah jam sesudah gempa.

    Diperkirakan, sebanyak 230 ribu orang yang tewas dari 14 negara, termasuk Thailand, India Selatan, Sri Lanka, dan sebagian Afrika. Aceh sendiri menjadi yang terparah, dengan jumlah korban mencapai 170 ribu.

    Tak hanya itu, jutaan rumah hancur akibat gempa dan tsunami Aceh. Listrik seketika padam karena dampak yang ditimbulkan. Ratusan penduduk pun harus kehilangan tempat tinggalnya.

    Dilansir di situs BBC News, selain penduduk setempat, 9.000 turis asing (kebanyakan orang Eropa) yang sedang menikmati musim liburan puncak termasuk di antara korban tewas atau hilang. Negara Eropa yang memiliki paling banyak korban tewas adalah Swedia, dengan jumlah 543 orang.

    Beberapa lembaga dunia pun berbeda pendapat soal kekuatan gempa mulai dari 9,1 hingga 9,3. Namun, sejumlah lembaga internasional sepakat menggunakan angka 9,1—9,2 untuk mengukur kekuatan guncangan itu.

    Lindu ikut dirasakan sejumlah negara lain, di antaranya Malaysia, Thailand, Singapura, India, Sri Lanka hingga Burma. Gempa ini, menurut sejumlah studi, berlangsung beberapa kali selama 10 menit.

    Berdasarkan Studi United State Geological Survey (USGS) melalui sejumlah dimulasi animasi menyebutkan bahwa gelombang besar tersebut juga menghantam daratan Sri Lanka dan India. Dampak lainnya juga dialami Burma dan sebagian negara di timur Afrika.

    Dari 14 negara terdampak, korban jiwa akibat bencana itu diperkirakan 230.000—280.000 jiwa. Dari total tersebut, sekitar 170.000 korban berasal dari Provinsi Aceh.

    Sementara itu, Riset The Incorporated Research Institutions for Seismology (IRIS) hanya menyebut “hampir 300.000 jiwa” meninggal dunia, sedangkan American Association for the Advancement of Science (AAAS) mencatat setidaknya 283.000 orang kehilangan nyawa.

    Data yang dihimpun masing-masing berbeda. Namun, para ilmuan menyepakati gempa tersebut merupakan yang terbesar dalam 40 tahun terakhir (pada saat 2004) atau 55 tahun hingga 2019. Gempa terbesar sebelumnya terjadi di Alaska pada 1964 dengan magnitudo 9,2.

    Gempa besar di Sumatra – Andaman pada 2004 ini juga bukan gempa pertama. Studi IRIS menyebutkan bahwa gempa terakhir yang terjadi di lautan itu berlangsung pada 1833. Namun, tak dijabarkan dampak dari bencana tersebut.

    Bencana alam terbesar ini pada akhirnya menyimpan duka dan luka khususnya bagi sebagian besar masyarakat Aceh. Ratusan ribu korban terdampak kehilangan harta, benda, dan sanak saudara.

    Berdasarkan himpunan dari Monumen Thanks To The World di Banda Aceh merekam, sedikitnya 167.000 orang meninggal atau hilang saat bencana itu, 3.000 kilometer jalan hancur, 120 jembatan rusak dan 500.000 orang memilih pindah dari Aceh.

    Selang beberapa hari pascabencana, bantuan dari negara asing masuk ke Indonesia. Puluhan negara menyumbangkan bantuan kemanusiaan untuk daerah itu. Selain uang, negara donor turut menerjunkan para relawan hingga personel militer untuk merekonstruksi wilayah itu.

    Usai bencana, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias mengelola setidaknya US$1,20 miliar. Dengan kurs Rp9.400 per dolar AS saat itu, badan tersebut mengelola keuangan mencapai Rp 11,20 triliun.

    Dana ini berasal dari sejumlah pihak. Perinciannya berdasarkan data Bappenas, US$ 600 juta dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Internasional, US$ 250 juta dari Pemerintah Amerika Serikat, dan US$ 245 juta dari multidonor trust fund (MDTF).

    Bantuan itu digunakan untuk beberapa sektor seperti pembangunan rumah, jalan, rumah sakit, dan penanaman pohon bakau di pesisir. Ada pula bantuan juga diberikan untuk rehabilitasi Aceh pascabencana. Termasuk pula membangun escape building atau bangunan penyelamatan dari tsunami yang dibangun Jepang.

    Selain itu, bantuan berasal dari perusahaan internasional di Tanah Air seperti Intel, Microsoft, British Airways, dan Cisco. Dana ini mencapai US$ 30 juta.

    Di sisi lain, pemerintah pusat dan DPR sepakat memberikan bantuan dana rekonstruksi Aceh senilai Rp 8,20 triliun. Dana tersebut disepakati pada tahun anggaran 2005. Dana tersebut berasal dari hibah, pinjaman bilateral, dan moratorium utang.

    Tugu ‘Thanks To The World’
    Tugu ‘Thanks To The World’.

    Secara keseluruhan setidaknya 53 negara ikut memberikan bantuan kepada Aceh. Bukti ini dapat dilihat dari tugu ‘Thanks To The World’ yang terlihat di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh hingga saat ini. Tugu tersebut dibangun sebagai bentuk ucapan terima kasih masyarakat Aceh atas dukungan tersebut.

    Kalimat “Terima kasih dan Damai” disampaikan dalam prasasti berbentuk lambung depan kapal. Ucapan itu disesuaikan dengan bahasa tiap-tiap negara donor. Musibah itu menjadi pemantik kesadaran tanggap bencana bagi masyarakat Aceh. Setiap tahun, sebagian warga melakukan simulasi mitigasi bencana khususnya di wilayah pesisir.

    Badan Penanggulangan Bencana Aceh juga telah membangun setidaknya 268 rambu evakuasi pada 2014 lalu dan 44 titik pada 2013 silam di Banda Aceh dan Aceh Besar.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meluncurkan program Keluarga Tangguh Bencana (Katana). Program ini diresmikan di Pasie Jantang, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Agenda ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi masyarakat tentang tanggap pada risiko bencana.

    Hari ini, 26 Desember 2019, tepat 15 tahun silam mengenang Tsunami Aceh. Seruan Tagar membanjiri media sosial #SolidarityDay dan #CareDay. Seruan itu bukan saja pengingat tragedi dahsyat abad ke 21 itu, melainkan menjadi momen belajar, peduli dan bersolidaritas.

    Founder Cahaya Aceh, Azwir Nazar di Jakarta memanjatkan doa dan takziyah kepada seluruh syuhada tsunami sambil mengajak terus bersatu dan bersolidaritas.

    “Bahwa Tsunami Aceh telah menggugah nurani dunia, berbagai negara dan NGO datang bersolidaritas. Kita pun sebagai anak bangsa ikut peduli, bersama sama tanpa memandang suku, ras, agama, ikut andil. Momen ini penting sekali dan modal menjadi bangsa kuat, “ ungkapnya.

    Maka, kebersamaan dan momentum itu harus senantiasa hidup dalam praktik kehidupan kita” ucap mantan Presiden PPI Turki tersebut.

    Tagar #CareDay dan #SolidarityDay mungkin sudah pernah dilakukan oleh komunitas lain di tahun-tahun sebelumnya. Tapi kita perlu segarkan dan serukan kembali karena terdapat banyak hikmah dan pelajaran. Ada spirit yang luar biasa” sebut Azwir yang juga korban Tsunami 15 tahun silam.

    Karena itu, Cahaya Aceh menginisiasi tagar @SolidarityDay juga sebagai ungkapan terima kasih kepada dunia yang telah membantu para korban bangkit dari Tsunami, 26 Desember 2004 lalu.

    Sementara itu, di seluruh Aceh sesuai Keputusan Gubernur Aceh no 560/1417/2019 ditetapkan sebagai hari libur resmi memperingati gempa dan tsunami. Masyarakat memperingati tsunami dengan zikir akbar dan doa bersama di masjid maupun kuburan massal Tsunami.

    Yayasan Cahaya Aceh dinisiasi sebagai wujud kepedulian dan dimotori oleh para anak muda yang keluarganya menjadi korban Tsunami yang selama ini fokus pada program Pendidikan, sosial dan kemanusiaan.

    Dalam 2 tahun ini puluhan relawan aktif mengajarkan tiap hari anak anak tahfidz Quran, bahasa Arab, Inggris, Turki, melukis, menari, silat, memanah, dan bakat minat lainnya. Termasuk dibuka kelas bagi Ibu Ibu dan Bapak Bapak di Kawasan pesisir Tsunami Aceh.

    Tuliskan hastag #2612SolidarityDay #TsunamiAceh #CareDay di twitter dan medsos lainnya untuk mengingat peristiwa sejarah terbesar abad ke-21.

    Terus bangkit dan kuat, Aceh!!! (net)

  • Warga Masyarakat Cisarua Gelar Acara Hajat Bumi

    Warga Masyarakat Cisarua Gelar Acara Hajat Bumi

    “Melalui kegiatan-kegiatan budaya ini, diharapkan pengunjung tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga mengenal budaya daerah Sunda,”

    CISARUA – CNN

    Warga masyarakat Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menggelar acara Hajat Bumi yang dilaksanakan di kawasan Dusun Bambu, beberapa hari lalu. Acara tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, juga sebagai bentuk melestarikan adat dan budaya sunda.

    Seperti halnya acara seren taun di Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Hajat Bumi di Cisarua tersebut diisi dengan kegiatan arak-arakan hasil bumi masyarakat sekitar, terutama padi. Sejumlah warga mengenakan pakaian tradisional Sunda. Kegiatan ini juga diiringi dengan lantunan musik khas Jawa Barat.

    Nadia Iwandha, Manager Restoran Purbasari Dusun Bambu, mengatakan, bahwa kegiatan Hajat Bumi ini digelar setiap akhir pekan pada bulan Desember ini. Puncaknya, akan digelar pada 30-31 Desember 2019 dengan persembahan dari Saung Angklung Udjo.

    “Ke depan, rencananya kegiatan ini juga akan digelar pada hari-hari libur nasional. Hal ini juga merupakan upaya kami untuk melestarikan adat istiadat Sunda,” katanya.

    Nadia menyebut, pelestarian adat Sunda di kawasan Dusun Bambu ini melibatkan sejumlah warga sekitar. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat dan pengunjung bisa lebih mengenal dan mencintai budaya daerah Jawa Barat ini.

    Pihaknya menjelaskan, setiap akhir pekan, kunjungan ke objek wisata di Bandung utara ini bisa mencapai sekitar 5.000 orang. Para pengunjung tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari mancanegara, seperti Singapura dan Malaysia.

    “Melalui kegiatan-kegiatan budaya ini, diharapkan pengunjung tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga mengenal budaya daerah Sunda,” jelasnya.

    Selain Hajat Bumi, pada akhir pekan kemarin juga digelar Degung Iwung, yakni penampilan kolaborasi musik tradisional dan modern dari para siswa SMAN 1 Lembang. Kegiatan musikal tersebut ditampilkan di atas danau, sehingga pengunjung bisa berkeliling danau menggunakan perahu sambil menikmati alunan musik tradisional Sunda.

    “Dengan komitmen kami di bidang budaya ini, objek wisata ini juga mendapatkan penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award 2019 dari Kementerian Pariwisata. Dan, juga mendapatkan Asian Sustainable Tourism Award, di mana hanya ada dua objek wisata di Indonesia yang mendapatkannya, salah satunya Dusun Bambu,” ucapnya.

    Nadia mengungkapkan, perpaduan wisata dan budaya memang menjadi visi dari Dusun Bambu. Hal ini dibuktukan dengan sejumlah spot di objek wisata tersebut yang diberi nama-nama Sunda, seperti Restoran Purbasari, dan sejumlah vila, seperti Sangkuriang, Kabayan, Iteung, dll. ****

  • Beja ti Pangaded Paguyuban Sundawani Wirabuana, Kang Robby Maulana Zulkarnaen:  NGAGUGAT KAWANI SUNDA

    Beja ti Pangaded Paguyuban Sundawani Wirabuana, Kang Robby Maulana Zulkarnaen: NGAGUGAT KAWANI SUNDA

    Saupama ngobrolkeun Sunda atawa kasundaan, ceuk Robby Maulana Zulkarnaén (Kang Robby, katelahna), nu remen témbong téh rumahuh jeung humandeuar. Ngan, ari keur inyana mah, kanyaataan nu saperti kitu téh, kudu diungkulan ku metakeun tarékah.

    “Upama tos ngaduh anggapan yén kaayaan urang Sunda ayeuna henteu nyugemakeun, nya kedah aya tarékah jinek ngungkulanana,” beja Pupuhu Sundawani Wirabuana, Robby Maulana Zulkarnaén basa ngawangkong di Kantor Redaksi Manglé, Jalan Wirangrong/Ladrang No. 2 Bandung.

    Ngawangkong jeung nu ngadegkeun ogé pupuhu Sundawani Wirabuana téh dijejeran ku pangurus séjénna, ti antarana, Dadan Hamdan, Agus Dadang, jeung Rosida Damayanti. Atuh, tangtu wé obrolan téh neueul kana upaya éta organisasi geusan ngahudangkeun kawani jeung nanjeurkeun komara urang Sunda.

    “Padika hirup urang Sunda téh euyeub sareng kumplit. Kantun ngalarapkeunana,” pokna tandes naker.

    Loba palsapah nu ngagambarkeun kaludeung Sunda. Tapi, dina émprona mah, éta kawani téh henteu témbong. Malah, kawas nu sabalikna, Sunda ngéléhan atawa éléhan. Tina kasang tukang nu kawas kitu, Kang Robby ngadegkeun Paguyuban Sundawani Wirabuana. Ngan naon waé hasilna?.

     

    Kekecapan karuhun saperti nu karékam dina rupa-rupa papatah nu sumebar di masarakat, écés, urang Sunda téh ngabogaan padika rupa-rupa tékad, ucap, jeung paripolah. Tapi, nu remen muncul téh, bet nu ngagambarkeun kalemahaan pasipatan urang Sunda. Saperti dina kapamingpinan, sok milih cicing di tukang, saperti kekecapan, mangga ti payun. Kitu deu dina bajuang nyumponan kabutuh hirup, majar téh, bisa tuang sapoé sakali gé geus pirang-pirang nuhun. “Padahal, urang Sunda gé gaduh padika hirup, saperti leuleus usap teuas peureup, halik ku aing, jeung sajabana,” ceuk Kang Robby.

    Dina sawangan Anjeuna, kekecapan téh mangaruhan raga. Apan, saperti mun nyaritakeun yén dirina capé, lungsé, badan gé bakal murengked, baka leuleus, moal aya tanaga, taya tangan pangawasa. Ku lantaran kitu, mun hayang boga kaludeung atawa kawani gé, éta pakarepan kudu digedurkeun, kaasup ngaliwatan kekecapan nu mampuh ngagedurkeun sumanget.

    Kang Robby mantrikeun kecap wani kana Sunda. Malah, nulisna gé dihijkeun, Sundawani bangun nandeskeun yén Sunda jeung wanina téh henteu pukah. Atuh, tina angen-angenna hayang ngahudang kawani Sunda téh, dipatrikeun dina organisasi nu diadegkeunana Sundawani, dina taun 2006.

    Medalna ngaran organisasi kawas kitu, loba nu ngaréspon. Ti antarana aya nu mangrupa otokritik kana kaayaan urang Sunda. Ceuk nu nepikeun éta ucapan téh,  “Ulah maké ngaran Sundawani, paké ngana séjén, Sundawangi, misalna. Da, mémang urang Sunda mah, teu boga kawani!” Kang Robby malikkan kekecapan salah saurang inohong Sunda nu mairan ngaran Sundawani.

    Narima respon nu kawas kitu, Kang Robby mah, mingkin sumanget. Da, inyana gé ngarti yén éta kekecapan téh respon kana kaayaan urang Sunda nu mémang henteu mampuh némbongkeun kawanina. Padahal, ceuk ieu panaratas nu ngadegkeun Sundawani téh, salah sahiji cara némbongkeun kamampuh atawa pangabisa téh kudu boga kawani!

    Dina lalampahan saterusna, malum nu ngumpul dina éta organisasi téh rupa-rupa jalma kalayan rupa-rupa kasang tukang jeung kapentingan. Atuh, tujuan jeung udaganana gé teu sakelir. Antukna, kahayang Kang Robby geusan nanjeurkeun komara Ki Sunda téh, kapaksa milih nyieun deui organisasi nu béda jeung saméméhna kalayan tujuan malikkeun deui angen-angenna kana pamianganana. Cindekna, léngkah Kang Robby mah, milih jalan anu béda, ku cara ngadegkeun deui organisasi nu ngaranna Sundawani Wirabuana, taun 2010.

    Keur nebarkeun kaludeung Sunda, inyana ngeprak balad. Ngajakan mitra-mitrana geusan ngawanohkeun organisasina ka balaréa. Pangurus sabalad-balad nyebar ka daérah-daérah di Jawa Barat ku cara ngayakeun rupa-rupa kagiatan.

    Ti waktu ka waktu, anggota éta organisasi téh terus mekar. Ahirna, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sundawani téh ngadeg di 16 kabupatén/kota di Jawa Barat, di antarana  Cianjur, Karawang, Kabupatén Bandung Barat, Cimahi, terus di sababaraha kabupatén/kota di wewengkon Jawa Barat beulah wétan.

    Patali jeung kapamingpinan di tingkat nasional, Sundawani boga pamanggih, kapamingpin nasional téh penting pisan. Ceuk inyana mah, urang Sunda gé, kudu mampuh némbongkeun ketakna di tingkat nasional, kaasup jadi présidén. Dina ‘kamus’ Kang Robby mah, taya nu mustahil, lantaran sidik urang Sunda gé kungsi jaya. “Mung tangtos kanggo medalkeun pamingpin nu masagi téh kedah aya nu nataharkeunana,” pokna pinuh ku pangharepan.

    Nilik kana poténsi, Sunda gé pibisaeun jadi pamingpin nasional. Da, sidik baheula gé urang Sunda teh boga kamampuh matéahkeun karajaan, boga struktur pamaréntahan, sarta masarakatna gé gemah ripah kalayan tingtrim.

    Saterusna, Kang Robby gé, nyutat kekecapan karuhun, yén mémang Pajajaran téh bakal leungit, tapi baris aya gagantina, nu tangtu béda jeung nu baheula, lantaran luyu jeung kabutuh jaman jeung nu ngajamanana. “Hartosna, kajayaan Pajajaran baheula téh, tiasa kahontal deui luyu sareng kabutuh jamannna. Atuh, éta poténsi kamajuan téh kedah ditarékahan sangkan jadi kanyataan,” pokna.

    Upama Robby Maulana Zulkarnaen reueus ku budaya Sunda, lantaran ti dinya kokocoranana.  Getih nu ngocor dina raga téh getih Sunda. Robby nu lahir di Bandung, taun 1964 téh, pituin teureuh Bandung, sarta sepuhna Rikrik Rusnadi Madjadipoera (ramana) sareng  R.A. Aty Marwati Wiranatakusumah (ibuna) ogé urang Bandung. Atuh, saterusna gé, Robby nu ngawangun rumah tangga sareng Yéyén Rustiani kalayan boga turunan opat awéwé wungkul téh, matuh di Jl. Wartawan, Turangga, Bandung.

    Dina lalampahanana, ieu Sarjana Hukum nu ogé ngadosénan Ilmu Budaya di Fakultas Hukum Unpas téh, teu ingkah balilahan, milu matéahkeun budaya Sunda. Kalayan bekel rupa-rupa kaparigelan nu patali jeung béla diri, Robby gé kawas nu hayang némbongkeun yén urang Sunda gé boga ka ludeung. “Kasenian Sunda téh apan sanés ukur Cianjuran, tapi ti antarana téh deuih aya penca,” pokna dibarung mésem.

    Atuh, dina némbongkeun kawanina gé, Robby mah tara susulumputan. Wani tarung di nu nembrak. Malah, kungsi, dina taun 1989 mah jadi Juara 1 Nasional Kelas Tarung Bebas Full Body Contact dina Kajuaraan Kei Shin Kan versi Khoshiki di Jakarta.

    Waktu ngadegkeun organisasi kasundaan, Sundawani Wirabuana, teu hésé. Kituna téh lantaran loba balad. Atuh, mun boga karep ngayakeun kagiatan badag gé, teu burung loba nu ngarojong. Kituna téh lantaran inyana aktif dina rupa-rupa organisasi, ti antarana jadi Ketua Bidang Kepemudaan Rukun Wargi Tatar Sunda, jeung sajabana.

    Geusan ngahudang kaludeung urang Sunda sakumna, Paguyuban Sundawani Wirabuana, ngayakeun rupa-rupa kagiatan. Di antarana ngayakeun pagelaran budaya nu dingaranan Napak Jagat Pasundan. Éta acara téh nyuguhkeun rupa-rupa kasenian, adu-manis seni buhun jeung seni kontémporér. Kagiatan kawas kitu téh, meunang pangrojong ti para sponsor.

    Dina kagiatanana gé lain ukur mintonkeun hiburan, tapi ogé nebarkeun sumanget yén urang Sunda gé bisa ngayakeun acara-acara rongkah, milukeun seniman/budayawan nu ahli dina widang masing-masing. Kagiatan-kagiatan harita, némbongkeun acara-acara rongkah nu sakapeung mah, dina sakali pintonan téh bisa méakkeun waragad nepi ka ratusan juta rupia.

    Lian ti kagiatan hiburan, geusan méré mangpaat ka balaréa, éta organisasi gé metakeun rupa-rupa tarékah. Di antarana, ngalarapkeun smart community. Éta téh produk IT, ti antarana nyieun aplikasi sorangan keur kapentingan para anggota jeung balaréa.

    Karepna ngahudang kaludeung, ceuk Kang Robby mah, henteu bisa ditunda-tunda, kudu prak ti ayeuna. Tah, najan harita téh heureut pakeun dina sual waragad, inyana ludeung ngadegkeun éta organisasi. Mémang ti harita nepi ka ayeuna, éta organisasi téh can meunang bantuan ti pamaréntah. Atuh sagala rupa waragad téh macakal, ngandelkeun mitra-mitra jeung para anggotana.

    Mémang, ceuk Kang Robby, ormas téh teu kapaliré. Da, dipikabutuh téh, saupama pihak-pihak nu boga kakawasaan jeung nu hayang nyangking kakawasaan butuh ku pangrojong sora balaréa. Tapi, sabada kompanye jeung pilihan pamingpin réngsé, ormas téh dilur-jeunkeun.

    Najan tara narima bantuan ti pamaréntah, Paguyuban Sundawani Wirabuana mah teu weléh ludeung ngararancang jeung nyieun acara badag. Da, boga rarancang rék ngayakeun acara rongkah, saperti ngumpulkeun ahli  spiritual Asia, sina mintonkeun kamampuh jeung momonésna di Bandung, inyana mah percaya, yén upama aya kahayang, tangtu aya jalan geusan nyarangna. “Insya Alloh taun payun 2020, Paguyuban Sundawani Wirabuana badé ngayakeun acara ngempelkeun ahli spiritual ti nagara-nagara nu aya di Asia,” ceuk ieu Dewan Pakar Budaya ICMI Jawa Barat téh.

    Lian ti ngayakeun rupa-rupa kagiatan, éta organisasi gé mantuan masarakat nu boga urusan hukum. Carana, dina taun 2014, Kang Robby saparakanca ngadegkeun Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK). Éta kagiatan téh, lain ukur mantuan masarakat tapi deui muka lolongkrang usaha jasa keur para anggotana. “Sundawani Wirabuana gé biasa masihan peyuluhan hukum ka masarakat,” ceuk ieu Sarjana Hukum téh.

    Ari kagiatan nu bisa mantuan ékonomi masarakat, éta organisasi gé ngayakeun mimitran jeung urang palemburan. Misalna waé, mantuan patani nu ngolah gula di Cimerak, Pangandaran malar hasil produksina lian ti ningkat ajénna ogé jumlahna. “Kalebet ngiring ngarojong masarkeunana ngalangkungan online,” ceuk Kang Robby. Dilansir tina situs mangle-online.com

  • Ternyata Ini Sebabnya, Teror Puluhan Ekor Ular Kobra ‘Gegerkan’ Masyarakat

    Ternyata Ini Sebabnya, Teror Puluhan Ekor Ular Kobra ‘Gegerkan’ Masyarakat

    JABAR – CNN

    Teror kemunculan puluhan ekor ular, terutama munculnya ular kobra di lingkungan warga di beberapa kota di Jawa Barat membuat ‘geger’ masyarakat. Telor ular tersebut mengakibatkan masyarakat menjadi resah.

    Bermula ditemukanya puluhan telur ular kobra di Bekasi. Di tempat lain malah muncul anak ular kobra yang jumlahnya juga puluhan. Belakangan, ular kobra juga muncul di Purwakarta dan Tasikmalaya. Ular-ular kobra mulai muncul di pemukiman warga.

    Ular kobra yang ditemukan itu masih berukuran kecil atau masih bayi. Warga pun ‘geger’ dan ketakutan anak ular kobra tersebut hidup di pemukiman warga.

    Apakah yang membuat puluhan anak-anak ular kobra ini bermunculan??

    Menurut seorang anggota pecinta ular, komunitas Nero Reptil, Rio Varanaid menyebut, hadirnya bayi ular kobra ini karena ular memang sedang memasuki musim reproduksi

    “Segi cuaca berpengaruh dan memang sekarang pun masih musim-musim buat ular untuk bereproduksi. Biasanya ular bereproduksi sejak awal Agustus hingga Desember,” sebut Rio saat.

    Lebih jauh Rio mengatakan, di saat musim hujan dan suhu yang lembab menjadi momen yang pas bagi ular bereproduksi. Nah bagi Anda yang menemukan induk ular kobra, sebaiknya jangan langsung menyerang binatang melata itu. Sambung rio, bahwa sifat ular kobra itu cenderung lebih defensive.

    “Mereka pasti akan nyerang kalau misalnya posisi dia memang terpojok,” katanya.

    Rio berucap, selain itu juga, ketika Anda berhadapan dengan ular kobra, jangan langsung berlari dan berteriak karena panik. Sebisa mungkin harus tetap tenang dan jaga jarak sekitar satu meter dari ular kobra.

    “Selain bisa menggigit biasanya ular juga menyemburkan bisanya ke arah mata, jadi harus hati-hati,” ucapnya.

    Sementara itu, melihat situasi dan kondisi di sejumlah kota di Indonesia yang saat ini tengah panik karena teror munculnya puluhan anak ular kobra, Panji Petualang bahkan ikut turut tangan untuk melakukan penyelamatan karena teror ular kobra itu masuk ke wilayah permukiman warga.

    Panji Petualang melakukan eksperimen terkait pemahaman orang banyak yang beranggapan bahwa ular takut garam. Anda bisa jadi pernah mendengar anggapan tersebut yang menyatakan taburan garam bisa mengatasi ular.

    Namun, anggapan itu ternyata terpatahkan setelah Panji Petualang melakukan eksperimen langsung di depan warga yang wilayahnya kena teror ular kobra. Momen ini terlihat dalam siaran langsung seperti dilansir di situs berita di TV One News yang tayang pada 12 Desember 2019 lalu, dan diunggah ke channel Youtube.

    Panji Petualang pun menunjukkam bayi ular kobra yang ditemukan dari rumah warga, lalu ditaburkan garam di sekitarnya. Namun, ternyata taburan garam itu tak mempan.

    “Reaksi ular ketika ada garam di sekitarnya biasa aja. Enggak ada rasa takut sakit kepanasan, enggak ada rasa perih atau apa,” ucap Panji Petualang.

    Panji mengungkapkan, bahwa garam tak memberikan pengaruh apa pun untuk membuat ular kobra takut. Ia menyebut justru ular takutnya pada manusia.

    “Jadi enggak ada ular takut garam dan garam tidak memberi pengaruh apa pun ketika ada ular. Yang ditakuti ular adalah manusia karena secara insting dan naluri ular tahu manusia itu predator atau ancaman,” ungkap Panji Petualang.

    Lebih dalam pihaknya menjelaskan, cara yang benar untuk mengatasi teror ular itu tak boleh sembarangan.

    “Kalo menemukan, harus menggunakan safety tool jadi kita jangan pakai tangan langsung. Pakailah alat diangkat biar aman,” jelasnya.

    Dalam keadaan darurat, alat itu bisa macam-macam, bisa menggunakan safety tool khusus seperti tongkat. Jika yang ditemukan adalah bayi ular, alat yang aman digunakan saat darurat bisa menggunakan sandal atau kayu.

    “Cara kita nangkapnya juga harus pakai alat apa pun itu, mau pakai kayu atau sendal juga bisa kalo untuk bayi ular,” terang Panji Petualang.

    Kemudian, terlihat momen saat Panji Petualang mempraktikkan ketika menangkap bayi ular kobra menggunakan sandal. Ia menyebut, cara yang benar itu yakni menggencet bagian kepala ular menggunakan sandal. Setelah digencet, lalu jepit menggunakan jari tangan agar kepala ular tersebut tak bergerak.

    Setelah itu, terlihat Panji Petualang melepaskan sandal yang ada di tangan kanannya, lalu menggunakan tangan kanannya itu untuk memegang kepala bayi ular kobra yang ditekan. Saat dipegang kepalanya terlihat bayi ular kobra itu tak berkutik.

    Menurut Panji Petualang, bahaya dari ular kobra itu serangannya sehingga yang aman untuk menanganinya, yakni memegang bagian kepalanya.

    “Bahaya ular ini serangan, yang aman itu pegang ular itu kepalanya, bagian bahaya dari ular kepalanya,” ujar Panji Petualang.

    Ia juga menjelaskan, mulut ular kobra itu berbahaya karena memiliki bisa. Terlebih ular kobra bisa menyemburkan bisa.

    “Bagian bahaya ada di mulutnya. ada bisa di dalam mulutnya, bisa bahaya ketika ular menggigit, cuma kobra bisa nyembur,” kata Panji Petualang.

    Walaupun begitu Panji Petualang mengingatkan tak boleh sembarangan saat mengatasi adanya teror ular kobra.

    “Intinya megangnya harus safety enggak boleh sembarangan,” imbuhnya.

    Ia mengatakan, ular dan reptil lain akan masuk musim kawin di awal tahun atau sekitar Januari sampai Maret.

    “(Karena itu) biasanya di akhir tahun akan bermunculan anak-anak ular dan reptil lain ke dunia,” ujar Panji Petualang.

    Lebih lanjut Panji menjelaskan mengenai alasan ular banyak ditemukan di permukiman.

    Ia mengatakan, dulu sebelum manusia membuka lahan untuk tempat tinggal, para ular dan reptil lain hidup nyaman di tempat mereka. Ular dan reptil lain ini tak terganggu. Termasuk ekosistem dan rantai makanan mereka pun stabil dan seimbang. Namun, seiring berjalanya waktu, populasi manusia semakin bertumbuh banyak.

    Salah satu penyebab populasi manusia jadi banyak adalah karena tak ada predator yang memburu manusia. Semakin lama, manusia membutuhkan tempat untuk tinggal. Manusia pun, lanjut Panji, membuka lahan untuk tinggal.

    Tak hanya itu, manusia juga membuka lahan untuk kepentingan tertentu seperti jalan, industri, dan lain sebagainya. Pembukaan lahan tersebut, menurut Panji, tentu menganggu ekosistem yang ada. Rumah bagi para hewan akhirnya tergusur oleh pembukaan lahan manusia.

    “Hewan tersebut pontang-panting ke sana ke mari mencari rumah baru untuk mereka. Ketika terciduk ditemukan manusia, manusia akan membunuhnya, manusia menganggap mereka adalah hewan berbahaya,” ujar Panji Petualang.

    Dia menjelaskan, kerusakan habitat itulah yang menjadi faktor utama mengapa ular masuk ke permukiman.

    Faktor lain ular masuk ke permukiman adalah karena kerap ditemukan tikus di sekitar rumah-rumah warga. Tikus adalah makanan pokok dan makanan yang paling disukai oleh ular. Beberapa kobra dan jenis ular lainnya menyukai tikus.

    “(Akhirnya) mereka masuk ke permukiman untuk memburu tikus,” kata Panji Petualang.

    Bagi Anda harus hati-hati jika menemukan ular. Anda bisa menghubungi atau meminta tolong orang profesional jika tak mengerti teknik untuk menangkap ular karena berbahaya jika kena gigitannya. ****

  • Pemerintah Buka Kesempatan Kepada Para Pelaku Kurupsi Untuk Dihukum Mati, Tapi Ada Syaratnya. Apa Saja Kah Syaratnya?

    Pemerintah Buka Kesempatan Kepada Para Pelaku Kurupsi Untuk Dihukum Mati, Tapi Ada Syaratnya. Apa Saja Kah Syaratnya?

    JAKARTA – CNN

    Didalam usulan revisi undang-undang, pemerintah bisa saja mengusulkan terkait dengan ‘hukuman mati bagi pelaku korupsi’. Namun tentu saja hal tersebut ada syaratnya. Seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) dalam kunjungan ke SMKN 57 Jakarta, dalam rangka pentas antikorupsi bersama sejumlah menterinya.

    “ya, yang pertama itu adalah adanya kehendak dari masyarakat. Kalau masyarakat berkehendak seperti itu dalam rancangan UU pidana, tipikor itu dimasukkan, tapi sekali lagi juga termasuk yang ada di legislatif,” tutur Jokowi, saat menggelar tanya-jawab, Jokowi sempat ditanya seorang siswa soal alasan negara tidak tegas terhadap koruptor dan tidak menghukum mati.

    Mengapa negara kita mengatasi korupsi tidak terlalu tegas, kenapa nggak berani di negara maju, misalnya dihukum mati, kenapa kita hanya penjara, tidak ada hukuman mati? ” tanya seorang siswa kepada Jokowi.

    “Kalau korupsi bencana alam, dimungkinkan. Kalau nggak, tidak. Misalnya ada gempa, tsunami, di Aceh, atau di NTB kita ada anggaran untuk penanggulangan bencana, duit itu dikorupsi, bisa (dihukum mati),” jelas Jokowi menjawab soal pidana mati bagi koruptor.

    Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebenarnya tercantum opsi hukuman mati bagi koruptor. Namun penerapan hukuman mati itu tidak sembarangan.

    Pasal 2 UU tersebut berbunyi sebagai berikut:

    Pasal 2
    (1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.
    (2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

    Penjelasan ayat (2) sebagai berikut:

    Yang dimaksud dengan ‘keadaan tertentu’ dalam ketentuan ini dimaksudkan sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana tersebut dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. (nt)

  • Potret ‘Biadab’ Oknum Pendidik,  Sepanjang tahun 2019, Sedikitnya 17 Kasus Kekerasan Seksual Menimpa Pelajar. KPAI Minta Sekolah Dilengkapi CCTV

    Potret ‘Biadab’ Oknum Pendidik, Sepanjang tahun 2019, Sedikitnya 17 Kasus Kekerasan Seksual Menimpa Pelajar. KPAI Minta Sekolah Dilengkapi CCTV

    “Ini pelakunya adalah guru dan wali kelasnya. Mengerikannya guru-guru ini adalah guru olahraga dan guru agama, guru BK. Guru-guru ini seharusnya melindungi anak di sekolah tapi malah justru menjadi pelaku kekerasan,”

    KPAI – CNN

    Sepanjang tahun 2019, KPAI mencatat sedikitnya ada 17 kasus kekerasan seksual yang terjadi dan mayoritas pelakunya merupakan oknum guru. Menyikapi hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus kekerasan seksual pada anak di sekolah.

    “Kalau kekerasan di pendidikan dari pengaduan yang kami terima itu terjadi penurunan, namun level kekerasannya justru meningkat dan yang agak mengerikan adalah kekerasan seksual karena terjadi peningkatan,” beber Komisioner KPAI Retno Listyarti, di Hotel Rivoli, Jl Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019).

    KPAI mencatat mayoritas pelaku kekerasan seksual adalah guru sebesar 88 persen sedangkan sisanya 22 persen merupakan kepala sekolah. Retno menjelaskan, guru yang pernah diduga melakukan kekerasan seksual merupakan guru bimbingan konseling (BK), guru olahraga bahkan guru agama.

    “Ini pelakunya adalah guru dan wali kelasnya. Mengerikannya guru-guru ini adalah guru olahraga dan guru agama, guru BK. Guru-guru ini seharusnya melindungi anak di sekolah tapi malah justru menjadi pelaku kekerasan,” sebutnya.

    Lebih jauh pihaknya menyebut, kekerasan seksual terbesar terjadi di lingkungan sekolah dasar. Retno berucap kebanyakan modus kekerasan itu karena adanya iming-iming nilai bagus.

    “Dari 17 kasus itu, terjadi di SD 64,70 persen, SMP 23,53 persen, dan SMA 11,77 persen. Kenapa tinggi di level SD, karena di usia ini anak mudah diiming-imingi, takut diancam oleh guru dengan nilai jelek, atau tidak naik kelas,” ucapnya.

    Retno meminta pemerintah untuk lebih ketat menyeleksi tenaga pengajar. Dia juga berharap pihak sekolah lebih peka terhadap lingkungan.

    Screening (penyeleksiannya) ya kayaknya harus lebih ketat, paling tidak jangan sampai mereka memilih guru yang potensi gitu. Kayak yang terakhir memang ada yang memiliki kelainan seks, secara sepintas kan kita tidak bisa lihat ya orang punya kelainan seks,” ungkapnya.

    “Nah, ini penting bagaimana sekolah memiliki perlindungan termasuk CCTV, tapi yang pasti adalah bagaimana kita bisa lihat sesama guru. Ini kok kayaknya suka ngumpulin anak sekolahnya itu patut dicurigai, yang gitu-gitu lah,” tutup Retno. ****

  • Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi: “ Bersatu Kita Maju”

    Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi: “ Bersatu Kita Maju”

    “Di sinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang posistif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, pemuda juga harapan bagi dunia, pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukan dunia, saya berharap ke depan akan banyak muncul tokoh-tokoh muda yang mendunia,”.

     POLDA JABAR – CNN

    Dalam upacara peringatan Sumpah Pemuda, Senin, 28 Oktober tahun 2019, Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi berperan sebagai inspektur upacara di Lapangan Mapolda Jabar. Dalam upacara tersebut, Kapolda Jabar membacakan pidato Menteri Pemuda dan Olah Raga Zainudin Amali. Peringatan ke-91 Hari Sumpah Pemuda ini bertemakan “Bersatu Kita Maju”.

    “Pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat dua mata pisau. Satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam pengembangan sumber daya serta daya saing, pada sisi lain memberikan dampak negatif. Informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dari terorisme juga masuk dengan mudahnya bila pemuda tidak membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara,” beber Kapolda Jabar saat membacakan pidato Menteri.

    Rudy menyebut, Tema tersebut diperuntukan untuk semua elemen bangsa, khususnya bagi pemuda menjadi keharusan karena di tangan pemuda lah Indonesia bisa lebih maju.

    Kapolda Jabar menjelaskan, bahwa pemuda untuk Indonesia maju adalah pemuda yang memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif, serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia.

    Tema tersebut diambil untuk menegaskan komitmen yang teiah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Bahwa hanya dengan persatuan kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa.

    “Pemuda yang memiliki karakter yang tangguh adalah pemuda yang memiliki karakter moral dan karakter kinerja, pemuda yang beriman dan bertakwa, berintegritas tinggi, jujur, santun, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan tuntas,” jelasnya.

    Lebih jauh pihaknya mengatakan, pemuda juga diharapkannya memiliki kapasitas intelektual dan skill kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan yang mumpuni, serta pemuda harus memiliki inovasi agar mampu berperan aktif dalam kancah internasional.

    “Pada saat ini di belahan dunia telah lahir generasi muda yang memiliki pola pikir yang serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan gramatik, “ katanya.

    Sambungnya, canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses terhadap sosial media, telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di sosial media berjalan real time 24 jam.

    “Di sinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang posistif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, pemuda juga harapan bagi dunia, pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukan dunia, saya berharap ke depan akan banyak muncul tokoh-tokoh muda yang mendunia,” harapnya.

    Dalam pidatonya, menteri mengatakan, bahwa pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur, menuju persatuan dan kesatuan bangsa.

    Maka tugas pemuda saat ini adalah harus sanggup membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik

    Revolusi mental menemukan relevansinya melalui pembangunan karakter yang kuat, tangguh dan kokoh ikut serta dalam percaturan pemuda di dunia.

    Tidak lagi harus bertahan dan menghadapi dampak negatif dari modernisasi dan globalisasi, tapi harus mampu memberikan warna untuk mengubah dunia dengan tekad dan semangat serta didukung oleh Ilmu pengetahuan dan teknologi. ****

  • Berikut Keuntungan yang Bisa Didapat Oleh Sang Buah Hati dari ‘KIA’

    Berikut Keuntungan yang Bisa Didapat Oleh Sang Buah Hati dari ‘KIA’

    INDRAMAYU – CN

    Kartu Identitas Anak (KIA) ternyata memiliki sejumlah keuntungan yang sangat bermanfaat, khususnya bagi sang buah hati. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Indramayu, Moh. Iskak Iskandar menuturkan, dengan memiliki KIA, anak-anak yang masih dibawah 17 tahun akan mendapat fasilitas layaknya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dimiliki orang dewasa.

    “Anak-anak minimal punya kartu identitas, yaitu bisa digunakan untuk sarana berpergian seperti fungsi KTP pada umumnya,” tuturnya.

    Iskak mengatakan, dengan memiliki KIA, anak-anak akan dimudahkan saat bepergian seperti naik kereta api atau pesawat terbang. Dirinya juga tidak menampik, bahwa dengan memiliki KIA ini mereka akan memperoleh potongan diskon.

    Tidak hanya itu, pihaknya juga akan menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pihak ketiga untuk dapat memberikan pelayanan khusus bagi anak-anak pemilik KIA.

    “Pihak-pihak ketiga ini nanti akan kita jalin kerjasama agar bisa membantu pelayanan dari perusahaan itu untuk diberikan ke anak-anak ini,” terangnya.

    Pihaknya menjelaskan, berdasarkan data kependudukan yang tercatat di Disdukcapil Kabupaten Indramayu, ada sekitar 400 ribu anak dengan rentang usia 0-16 tahun. Ia menambahkan, KIA ini dilengkapi dengan sebuah cip berupa barcode agar data kependudukan si anak bisa lebih valid tercatat di Disdukcapil Kabupaten Indramayu.

    Disebutkan Iskak, bagi masyarakat yang hendak melakukan perekaman pemohonan KIA selain mendatangi kantor Disdukcapil Indramayu. Pihaknya juga melakukan upaya jemput bola dengan cara mendatangi pasar-pasar yang ada Kabupaten Indramayu setiap hari Rabu.

    Program tersebut bernama Loboling D’Ayu, yaitu Pelayanan Rebo Keliling Dokumen Adminduk Indramayu.

    “Di sana selain KIA, masyarakat juga bisa mengurus untuk pembuatan KTP, akte kelahiran, dan lain-lain,” tutupnya. ****