“Ini tradisi di masyarakat desa. Kita hormati saja, yang penting bisa menjaga suasana dan tidak menimbulkan gangguan keamanan,”.
CIREBON – CNN
Jajaran Polres Cirebon maupun Polresta Cirebon menggelar apel bersama yang diikuti ratusan petugas keamanan. Tidak hanya dari kepolisian, jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga turut berpartisipasi, termasuk satuan keamanan sipil seperti pertahanan sipil (hansip) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), baik di tingkat kabupaten, kecamatan maupun desa, pada Sabtu (26/10/2019) atau H-1 pemilihan kepala desa/kuwu.
“Di lapangan, nanti ada ribuan petugas kami kerahkan untuk pengamanan di 176 desa. Selain unsur kepolisian, dibantu juga dari TNI, serta jajaran keamanan sipil lainnya. Kita sepakat, bila ada yang mengganggu, pelakunya kami tindak tegas,” ungkap Kepala Polres Cirebon, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Suhermanto.
Kemudian, hal serupa juga dikemukakan Kapolres Cirebon Kota AKBP Roland Ronaldy. Pihaknya bekerja sama dengan Polres Cirebon untuk menjaga agar pilwu serentak berlangsung aman, nyaman dengan tetap menjaga situasi kondusif.
“Ada beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Cirebon, namun masuk wilayah hukum dan kewenangan kami. Karena itu, kita bekerja sama dalam pengamanan agar hajat demokrasi di 176 desa ini berlangsung aman tanpa ada gangguan keamanan,” terangnya.
Minggu 27 Oktober 2019, Kabupaten Cirebon menggelar pemilihan kepala desa atau kuwu (pilwu) serentak di 176 desa tersebar di 40 kecamatan. Sejak pagi hingga siang hari, ribuan warga berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih kuwu baru.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) setempat, seharusnya ada 177 desa yang menggelar pilwu. Namun ada satu desa, yakni Astanalanggar, Losari batal karena hanya ada satu calon kuwu setelah calon lainnya meninggal dunia sebelum penetapan.
Dari 176 desa, terdapat 598 calon kuwu yang memperebutkan kursi sebagai orang nomor satu di setiap desa. Sebbanyak 149 desa, berada dalam wilayah hukum Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Cirebon, sisanya yang 27 desa berada dalam wilayah Polres Kota Cirebon.
Sejauh pengamatan, selama pencoblosan, situasi berjalan normal, nyaris tidak ada informasi berkaitan dengan gangguan keamanan. Sesuai jadwal, penghitungan suara dimulai setelah TPS ditutup, dan sampai Minggu sore, penghitungan suara masih terus berlangsung.
Sementara itu, Bupati Cirebon, H. Imro Rosyadi yang melakukan monitoring di sejumlah desa, meminta seluruh masarakat bisa menjaga suasana. Bagi para calon kuwu, harus siap menang dan siap kalah serta mau bersikap dewasa terhadap hasil pencoblosan.
“Masyarakat, juga para calon beserta tim sukses dan pendukungnya, harus bersikap dewasa. Kursi hanya satu, sedang calon lebih dari satu, karena itu harus siap menang dan siap kalah,” katanya.
Sejak Sabtu malam, suasana ‘magis’ terasa di sejumlah desa. Rupanya tidak sedikit para calon kuwu yang memakai jasa ‘paranormal’ atau orang pintar untuk bisa memenangkan pilwu.
Tidak heran bila di tiap-tiap rumah calon kuwu, ada satu tempat yang diperuntukan bagi paranormal untuk membantu secara ghaib untuk memenangkan calon yang memakai jasanya. Bau asap kemenyan sangat terasa di sejumlah rumah para calon kuwu.
“Ini tradisi di masyarakat desa. Kita hormati saja, yang penting bisa menjaga suasana dan tidak menimbulkan gangguan keamanan,” ucap Pelaksana tugas Sekertaris DPMD, Nanan Abdul Manan.
Banyak hal menarik selama pencoblosan sejak Minggu pagi, saat TPS dibuka. Salah satunya di Desa Sutawinangun, Kedawung, dimana ada seorang bule asal Inggris, bernama Paul Edward Balang (57 tahun) ikut mencoblos yang rupanya dia sudah alih kewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sejak enam bulan lalu.
Protes masyarakat sempat muncul pada Sabtu malam, terjadi di Desa Japurabakti, Astanajapura dan Rawaurip, Pangenan. Ratusan warga mendatangi kantor balai desa memprotes panitia pilwu karena sampai Sabtu malam tidak memperoleh undangan untuk mencoblos, padahal sejak 10 Oktober 2019 lalu sudah tercatat dalam Daftar pemilih Tetap (DPT).
Masalahnya ada pemilih ganda yang membuat banyak pemilih yang masuk DPT akhirnya tidak dapat undangan,” sebut Ilyas, salah satu anggota panitia pilwu.
Saking antusiasnya, mereka meminta agar malam itu juga segera memperoleh undangan agar besoknya bisa mencoblos. Masalah tersebut, akhirnya bisa diatasi setelah panitia pilwu mengaku ada kekeliruan dalam pengadministrasian. ****

