“Kenapa saya bertahan? Bukan uang yang jadi tolok ukur, di sini saya bukan bekerja, tapi belajar dan mengabdi. Setiap hari saya berusaha memahami getirnya derita seorang anak yang sakit. Ketika mereka sembuh, saya jadi orang yang paling bahagia,”
BANDUNG – CN
Yayasan Kasih Anak Kanker (YKAK) adalah tempat bernaung bagi anak yang tengah dalam masa pengobatan, seperti kemoterapi. Tempat ini jadi satu-satunya di Indonesia yang menampung pasien kanker, khusus anak.
Berbicara tentang penyakit Kanker. Kanker memang bukan merupakan penyakit menular, tapi mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan mengenakan alas kaki yang sudah disiapkan wajib hukumnya. Begitu kebiasaan yang dilakukan pengelola sebelum seseorang melangkah masuk ke Rumah Kita anak penderita kanker, milik Yayasan Kasih Anak Kanker (YKAK) Bandung.
Jelang akhir Desember 2019, tercatat ada sekitar 19 anak penderita kanker yang menumpang tinggal sementara di sana. Rata-rata keluarga yang menitipkan anaknya berasal dari kelas ekonomi prasejahtera.
Oleh karena itu, menetap semetara di Rumah Kita adalah pilihan terbaik ketimbang harus merogoh kocek lebih untuk pergi-pulang ke rumah sakit.
Selama di rumah kita, pihak pengelola membekali anak dengan beragam fasilitas. Ada tiga kamar tidur berukuran sedang dan besar yang di dalamnya berjejal banyak kasur.
Selain itu di muka rumah dilengkapi sarana permainanan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana menjadi tempat anak-anak saling bertukar tawa dan melepas sakit sejenak usai dikemoterapi.
Kemudian dekat dari halaman, terlihat sebuah ruang belajar. Di situ anak bisa mengenyam pendidikan yang diajar oleh guru dari hari Senin sampai Jumat.
Aktivitas tersebut merupakan wujud dari program yang diberi nama ‘Sekolah-Ku’.
Bahan ajar mengikuti kurikulum nasional, dan sesuai dengan materi jenjang pendidikan masing-masing anak.
Sekolah-Ku sendiri, disebut sebagai satu-satunya program pendidikan di rumah singgah yang yang ada di Indonesia, khusus untuk anak penderita kanker.
Menurut keterangan salah seorang guru yang sudah lebih empat bulan bekerja di YKAK, Deli menyampaikan, semangat belajar anak begitu menggebu-gebu. Di dalam diri anak yang diajarnya tertanam rasa ingin tahu berlebih.
“Tanpa perlu dibilang, bangku-bangku pasti sudah penuh diisi anak-anak sebelum waktu belajar. Dalam proses belajar juga aktif banyak nanya. Saya kagum semangat belajar mereka,” ucapnya.
Deli menjelaskan, aura semangat memang menyala di rumah kita sejak berdirinya pada tujuh tahun silam, tepatnya pada tahun 12 Desember 2012.
Ya, Maria Ina Lintang, sosok di balik berdirinya YKAKI Bandung, pun berangkat dari semangat, membantu anak penderita kanker. Ia pernah merasa getirnya jadi seorang ibu dari anak yang juga menderita sakit serupa. Tapi sayang, nyawa anaknya tak tertolong.
Atas dasar itulah, YKAKI Bandung lahir, serta dipimpin oleh orang yang punya misi menebar semangat. Ina memupuk semangat di dalam diri orang tua sesama nasib agar senantiasa optimistis anaknya punya harapan hidup dan lekas sembuh.
Semangat juga jadi dasar
pengelolalan yayasan. Setiap soal dihadapi dengan semangat gotong-royong. Misal dari hal kecil, setiap hari para orang tua bahu-membahu untuk memasak dan bersih-bersih rumah.
Suasana rumah yang tertata rapi dan bersih, jadi pemandangan umum ketika seseorang berkunjung ke sana. Pun buat hal besar seperti masalah keuangan. Yayasan bisa bertahan sampai sekarang berkat semangat gotong-royong dari para donatur.
Setiap hari ada saja yang menyisipkan rezekinya, entah itu berupa uang atau bantuan sembako guna kebutuhan makan sehari-hari.
Ada satu donatur tetap yang jasanya selalu dikenang. Dia adalah sosok di balik lancarnya program Sekolah-Ku. Setiap sarana belajar-mengajar ada yang kurang, donatur itu selalu datang membantu.
“Orangnya warga Belanda yang sekarang tinggal di Indonesia. Banyak yang dikasih. Semua buku-buku, bangku, meja, dan kadang dia juga mengajar bahasa Inggris buat anak-anak,” ungkap Deli.
Deli sendiri merupakan guru yang menumbuh kembangkan semangat gotong-royong. Walaupun selama ia menjadi guru di sana, dia mendapat upah di bawah standar.
Namun hal itu bukan masalah, karena bagi Deli tawa bahagia anak-anak adalah segalanya.
“Kenapa saya bertahan? Bukan uang yang jadi tolok ukur, di sini saya bukan bekerja, tapi belajar dan mengabdi. Setiap hari saya berusaha memahami getirnya derita seorang anak yang sakit. Ketika mereka sembuh, saya jadi orang yang paling bahagia,” ungkap Deli. (nt)

