Sosial Media ‘Roket’ yang Bisa Menembus Ruang dan Waktu

admin

Ditulis Oleh : Agung Jaelani
Redaktur Pelaksana
SKI Cakrawala Nusantara & Media Online
www.cakrawalanusantaranews.com

Dengan segala kebebasan pers juga informasi sekarang ini yang begitu mudah didapat, media harus lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak mudah menggoreng suatu isu. Media harus pandai menempatkan posisi dimana ia harus menjadi independent tanpa menghilangkan sifat khasnya yaitu mempublikasikan dan memberi pesan yang bersifat universal dan diterbitkan berkala serta berkesinambungan,”

 

Semenjak internet begitu mudah diakses oleh siapa saja, keberadaan media sosial menjadi tempat yang ramai dikunjungi para anak muda, dewasa, orangtua, bahkan semua lintas kalangan dari belahan dunia manapun.

Mereka bisa bebas berekspresi, bebas menyampaikan pendapat, bebas menyerap informasi, bisa mendapatkan teman dari mana saja, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan di media sosial. Bahkan, aktifitas jual beli, mencari pekerjaan, hingga belajar ilmu pengetahuan apapun juga bisa dilakukan melalui media sosial.

Namun, tentu saja peran sosial media menyimpan persoalan-persoalan. Persoalanya adalah, perkembangan teknologi informasi tak hanya memberikan dampak positif, tapi juga memberikan dampak negatif. Kecepatan penyebaran informasi dan banyaknya anak muda yang mengakses internet, diduga menjadi ajang pemanfaatan oleh sejumlah pihak atau oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk menebar propaganda radikalisme, menebar ujaran kebencian melalui konten-konten yang sengaja mereka produksi. Hal demikian kita bisa lihat tentunya dari maraknya pemberitaan di media massa, seperti televisi, website/ online media bahkan di media cetak sekalipun.

Baik itu dalam bentuk tulisan, gambar ataupun video. Seperti halnya di sepanjang tahun 2019, yang merupakan tahun politik. Tensi politik yang begitu tinggi, tanpa disadari energi masyarakat tersedot kedalam politik itu sendiri. Penyebaran-penyebaran konten negative semakin masif untuk menjatuhkan atau menaikan elektabilitas pasangan calon.

Kondisi tersebut tentunya sangat berpotensi mengganggu kerukunan dan toleransi yang selama ini  sudah terjaga baik di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena pihak-pihak atau oknum – oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut, sengaja memprovokasi dengan sentimen SARA.

Mengakibatkan, masyarakat yang menelan bulat-bulat informasi tersebut tanpa menyaring atau mencari kebenaran informasi yang muncul, tentunya akan mudah terprovokasi. Apalagi sudah mulai banyak tokoh politik, tokoh masyarakat, bahkan tokoh agama yang aktif memberikan pernyataan provokatif. Banyak contoh di Indonesia yang seharusnya bisa kita jadikan pembelajaran terkait hal ini. Banyak orang yang telah ditahan karena cuitannya. Banyak orang yang ditahan karena provokasi di media sosial.

Media massa di era globalisasi seperti sekarang ini memiliki pengaruh yang sangat besar. Informasi yang selalu ‘berseliweran’ setiap detik, menitnya menjadikan media massa mempunyai peran yang krusial. selain sebagai pemberi informasi bagi pembaca, media juga berperan sebagai penyaji beragam informasi yang bisa ditanggungjawabkan sehingga jatuhnya tidak menjadi hoax.

Media di zaman sekarang harus memiliki sumber yang akurat dan terpercaya. Selain karena sifat generasi sekarang yang diduga cenderung ‘malas’ untuk mencari suatu kebenaran berita yang mereka terima, generasi sekarangpun cenderung menerima informasi sealakadarnya, tidak perlu benar atau salah yang penting bisa mewakili kepentinganya.

Sebagai contoh, aktivis Ratna Sarumpaet misalnya. Foto babak belurnya mampu menjadi Hot News. Fotonya begitu cepat menyebar, masyarakat ‘menggoreng’ isu hingga kasus ini menjadi begitu luar biasa.

Dari kasus itu kita melihat, bahwa media sebagai pionir penginformasi khalayak luas, harus berdiri ditengah, tidak langsung menggoreng isu karena pemberitaan itu bombastis, namun memeriksa kebenaran apa yang terjadi sesungguhnya. Media yang ideal selain dapat memberi informasi pada khalayak tentang apa yang terjadi di sekitarnya juga bisa memberi pendidikan berdasarkan fakta.

Dalam media sosial Instagram saja contohnya yang kini sangat digandrungi oleh kaula muda millenial jaman now sering dijadikan suatu titik tolak acuan bahwa informasi itu benar terjadi. Dari hal tersebut kita langsung bisa membedakan mana media yang benar-benar murni pemberitaanya dengan melakukan check and rechechk atau hanya ikut masuk pusaran informasi yang tidak jelas sumbernya

Terkadang kita susah mendapat suatu pemahaman dari kebenaran suatu isu karena tidak ada kesesuaian situasi objektifnya, oleh karenanya, presentasi informasi dan persepsi jurnalis dalam suatu suguhan berita harus merujuk pada suatu fakta. Selain itu diperlukan suatu filter sehingga informasi yang dihasilkan memang murni dan relevan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.

Peran serta media massa selain sebagai wahana komunikasi yang didalamnya berisi kegiatan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, media juga berperan sebagai wahana pendidikan. Fungsi utamanya tentu untuk memberi ruang pada masyarakat terutama generasi sekarang dalam mempelajari beragam hal yang kadang tidak hanya mereka dapatkan jika hanya mencari dari literatur-literatur buku yang ada di perpustakaan/toko-toko buku misalnya.

Sebagai media yang hadir di zaman serba canggih dengan segala macam problematika kehidupan yang terjadi, media massa sekarang harus lebih memberi ruang pada publik untuk  bisa mendiskusikan setiap permasalah baik itu politik, ekonomi dan lain sebagainya yang tengah menghangat.

Banyak cara yang bisa dilakukan, baik itu di media cetak atau media daring misalnya. Pemberian konten atau rubrik opini yang penulisnya adalah dari masyarakat itu sendiri bisa dijadikan pilihan utama, sehingga menjadi suatu ruang atau wadah untuk mencurahkan segala pendapatnya.

“Dengan segala kebebasan pers juga informasi sekarang ini yang begitu mudah didapat, media harus lebih memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak mudah menggoreng suatu isu. Media harus pandai menempatkan posisi dimana ia harus menjadi independent tanpa menghilangkan sifat khasnya yaitu mempublikasikan dan memberi pesan yang bersifat universal dan diterbitkan berkala serta berkesinambungan,”.

Meringkas penuturan yang disampaikan diatas, muncul sebuah pertanyaanya bagi kita. Sebagai tombak penerus bangsa, apakah para generasi milenial juga akan ikut sebagai penebar kebencian di media sosial? Apakah kita juga akan menjadi provokator di media sosial? Jika diantara kita saat ini sudah terlanjur menabur benih-benih kebencian di sosial media, TOLONG HENTIKAN!!.

Marilah kita sebarkanlah pesan kedamain yang mampu menyejukkan semua orang. Jangan bangkitkan amarah orang lain hanya karena alasan perbedaan politik atau karena perbedaan ideologi atau keyakinan dan sudut pandang. Kita semua ini bersaudara, didalam kebhinekaan atau bhineka tunggal ika, bahwa berbeda tapi satu jua.

Marilah kita jadikan dunia maya, sosial media sebagai wadah atau tempat untuk saling berdikusi tentang hal-hal positif, sesuatu yang bisa saling menambah wawasan dan mencedaskan sesama penggunanya serta bisa memberikan ruang kedamainan bagi seluruh warganet.

Mulai sekarang dan seterusnya, Marilah kita cerdas menggunakan sosial media. Mari kita dorong semua warganet untuk menguatkan budaya literasi. Pandai di sosial media akan menghindarkan diri dari segala pengaruh buruk. Pintar bersosial media bisa menekan tingkat kebencian atau isu provokasi dan sebagainya.

 

www.cakrawalanusantaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ribuan Ruang Kelas di Majalengka Rusak Parah, Kadisdik, Ahmad Suswanto : Bangunan Tersebut Rusak Mayoritas Sudah Termakan Usia

“Ada sekitar 20 persennya mengalami rusak ringan. Oleh karena itu, saya perlu data yang akurat disertai lampiran foto-foto agar meyakinkan bahwa memang benar catatan saya di Majalengka itu ada ruang kelas yang jumlahnya ribuan alami rusak parah,” MAJALENGKA – CNN Ribuan ruang kelas belajar di Kabupaten Majalengka dalam kondisi rusak parah. […]
Kepala Dinas Pendidikan Majalengka Ahmad Suswanto

Subscribe US Now

Need Help?