JABAR – CNN
Teror kemunculan puluhan ekor ular, terutama munculnya ular kobra di lingkungan warga di beberapa kota di Jawa Barat membuat ‘geger’ masyarakat. Telor ular tersebut mengakibatkan masyarakat menjadi resah.
Bermula ditemukanya puluhan telur ular kobra di Bekasi. Di tempat lain malah muncul anak ular kobra yang jumlahnya juga puluhan. Belakangan, ular kobra juga muncul di Purwakarta dan Tasikmalaya. Ular-ular kobra mulai muncul di pemukiman warga.
Ular kobra yang ditemukan itu masih berukuran kecil atau masih bayi. Warga pun ‘geger’ dan ketakutan anak ular kobra tersebut hidup di pemukiman warga.
Apakah yang membuat puluhan anak-anak ular kobra ini bermunculan??

Menurut seorang anggota pecinta ular, komunitas Nero Reptil, Rio Varanaid menyebut, hadirnya bayi ular kobra ini karena ular memang sedang memasuki musim reproduksi
“Segi cuaca berpengaruh dan memang sekarang pun masih musim-musim buat ular untuk bereproduksi. Biasanya ular bereproduksi sejak awal Agustus hingga Desember,” sebut Rio saat.
Lebih jauh Rio mengatakan, di saat musim hujan dan suhu yang lembab menjadi momen yang pas bagi ular bereproduksi. Nah bagi Anda yang menemukan induk ular kobra, sebaiknya jangan langsung menyerang binatang melata itu. Sambung rio, bahwa sifat ular kobra itu cenderung lebih defensive.
“Mereka pasti akan nyerang kalau misalnya posisi dia memang terpojok,” katanya.
Rio berucap, selain itu juga, ketika Anda berhadapan dengan ular kobra, jangan langsung berlari dan berteriak karena panik. Sebisa mungkin harus tetap tenang dan jaga jarak sekitar satu meter dari ular kobra.
“Selain bisa menggigit biasanya ular juga menyemburkan bisanya ke arah mata, jadi harus hati-hati,” ucapnya.
Sementara itu, melihat situasi dan kondisi di sejumlah kota di Indonesia yang saat ini tengah panik karena teror munculnya puluhan anak ular kobra, Panji Petualang bahkan ikut turut tangan untuk melakukan penyelamatan karena teror ular kobra itu masuk ke wilayah permukiman warga.
Panji Petualang melakukan eksperimen terkait pemahaman orang banyak yang beranggapan bahwa ular takut garam. Anda bisa jadi pernah mendengar anggapan tersebut yang menyatakan taburan garam bisa mengatasi ular.
Namun, anggapan itu ternyata terpatahkan setelah Panji Petualang melakukan eksperimen langsung di depan warga yang wilayahnya kena teror ular kobra. Momen ini terlihat dalam siaran langsung seperti dilansir di situs berita di TV One News yang tayang pada 12 Desember 2019 lalu, dan diunggah ke channel Youtube.
Panji Petualang pun menunjukkam bayi ular kobra yang ditemukan dari rumah warga, lalu ditaburkan garam di sekitarnya. Namun, ternyata taburan garam itu tak mempan.
“Reaksi ular ketika ada garam di sekitarnya biasa aja. Enggak ada rasa takut sakit kepanasan, enggak ada rasa perih atau apa,” ucap Panji Petualang.
Panji mengungkapkan, bahwa garam tak memberikan pengaruh apa pun untuk membuat ular kobra takut. Ia menyebut justru ular takutnya pada manusia.
“Jadi enggak ada ular takut garam dan garam tidak memberi pengaruh apa pun ketika ada ular. Yang ditakuti ular adalah manusia karena secara insting dan naluri ular tahu manusia itu predator atau ancaman,” ungkap Panji Petualang.
Lebih dalam pihaknya menjelaskan, cara yang benar untuk mengatasi teror ular itu tak boleh sembarangan.
“Kalo menemukan, harus menggunakan safety tool jadi kita jangan pakai tangan langsung. Pakailah alat diangkat biar aman,” jelasnya.
Dalam keadaan darurat, alat itu bisa macam-macam, bisa menggunakan safety tool khusus seperti tongkat. Jika yang ditemukan adalah bayi ular, alat yang aman digunakan saat darurat bisa menggunakan sandal atau kayu.
“Cara kita nangkapnya juga harus pakai alat apa pun itu, mau pakai kayu atau sendal juga bisa kalo untuk bayi ular,” terang Panji Petualang.
Kemudian, terlihat momen saat Panji Petualang mempraktikkan ketika menangkap bayi ular kobra menggunakan sandal. Ia menyebut, cara yang benar itu yakni menggencet bagian kepala ular menggunakan sandal. Setelah digencet, lalu jepit menggunakan jari tangan agar kepala ular tersebut tak bergerak.
Setelah itu, terlihat Panji Petualang melepaskan sandal yang ada di tangan kanannya, lalu menggunakan tangan kanannya itu untuk memegang kepala bayi ular kobra yang ditekan. Saat dipegang kepalanya terlihat bayi ular kobra itu tak berkutik.
Menurut Panji Petualang, bahaya dari ular kobra itu serangannya sehingga yang aman untuk menanganinya, yakni memegang bagian kepalanya.
“Bahaya ular ini serangan, yang aman itu pegang ular itu kepalanya, bagian bahaya dari ular kepalanya,” ujar Panji Petualang.
Ia juga menjelaskan, mulut ular kobra itu berbahaya karena memiliki bisa. Terlebih ular kobra bisa menyemburkan bisa.
“Bagian bahaya ada di mulutnya. ada bisa di dalam mulutnya, bisa bahaya ketika ular menggigit, cuma kobra bisa nyembur,” kata Panji Petualang.
Walaupun begitu Panji Petualang mengingatkan tak boleh sembarangan saat mengatasi adanya teror ular kobra.
“Intinya megangnya harus safety enggak boleh sembarangan,” imbuhnya.
Ia mengatakan, ular dan reptil lain akan masuk musim kawin di awal tahun atau sekitar Januari sampai Maret.
“(Karena itu) biasanya di akhir tahun akan bermunculan anak-anak ular dan reptil lain ke dunia,” ujar Panji Petualang.
Lebih lanjut Panji menjelaskan mengenai alasan ular banyak ditemukan di permukiman.
Ia mengatakan, dulu sebelum manusia membuka lahan untuk tempat tinggal, para ular dan reptil lain hidup nyaman di tempat mereka. Ular dan reptil lain ini tak terganggu. Termasuk ekosistem dan rantai makanan mereka pun stabil dan seimbang. Namun, seiring berjalanya waktu, populasi manusia semakin bertumbuh banyak.
Salah satu penyebab populasi manusia jadi banyak adalah karena tak ada predator yang memburu manusia. Semakin lama, manusia membutuhkan tempat untuk tinggal. Manusia pun, lanjut Panji, membuka lahan untuk tinggal.
Tak hanya itu, manusia juga membuka lahan untuk kepentingan tertentu seperti jalan, industri, dan lain sebagainya. Pembukaan lahan tersebut, menurut Panji, tentu menganggu ekosistem yang ada. Rumah bagi para hewan akhirnya tergusur oleh pembukaan lahan manusia.
“Hewan tersebut pontang-panting ke sana ke mari mencari rumah baru untuk mereka. Ketika terciduk ditemukan manusia, manusia akan membunuhnya, manusia menganggap mereka adalah hewan berbahaya,” ujar Panji Petualang.
Dia menjelaskan, kerusakan habitat itulah yang menjadi faktor utama mengapa ular masuk ke permukiman.
Faktor lain ular masuk ke permukiman adalah karena kerap ditemukan tikus di sekitar rumah-rumah warga. Tikus adalah makanan pokok dan makanan yang paling disukai oleh ular. Beberapa kobra dan jenis ular lainnya menyukai tikus.
“(Akhirnya) mereka masuk ke permukiman untuk memburu tikus,” kata Panji Petualang.
Bagi Anda harus hati-hati jika menemukan ular. Anda bisa menghubungi atau meminta tolong orang profesional jika tak mengerti teknik untuk menangkap ular karena berbahaya jika kena gigitannya. ****

