“Tidak ada lagi namanya 01, tidak ada lagi namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya ‘cebong’, tidak ada lagi yang namanya ‘kampret’. Yang ada Garuda Pancasila,”
NASIONAL – CNN
Pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2019 berlangsung panas dengan tensi tinggi. Persaingan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sangatlah ketat, disertai polarisasi masyarakat. Suhu politik redam setelah capres 01 dan 02 yang semula berseteru saat kontestasi akhirnya bersekutu dalam pemerintahan.
Rabu 17 April 2019, hari bersejarah bagi Indonesia karena pertama kali sepanjang riwayat, Pilpres dan Pileg digelar serentak. Pileg diikuti 16 partai politik nasional. Khusus Aceh, pesertanya bertambah dengan empat partai lokal. Sedangkan Pilpres diisi dua pasangan; Jokowi-KH Ma’ruf Amin nomor urut 01, Prabowo-Sandiaga Uno nomor 02. Namun, ingar-bingar Pileg kalah gaung dari Pilpres yang penuh intrik. Pertarungan Jokowi versus Prabowo paling menarik perhatian.
Jokowi-Ma’ruf didukung Koalisi Indonesia Kerja gabungan PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, Perindo, PSI, PBB, dan PKPI. Sedangkan Prabowo-Sandi di-support Gerindra, PKS, PAN, Demokrat, dan Berkarya dalam gerbong Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.
Dimulai dari penunjukan cawapres. Jokowi yang hampir dipastikan berpasangan dengan Mahfud MD, tiba-tiba mengumumkan KH Ma’ruf Amin sebagai pendamping. Prabowo juga demikian. Ijtimak Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) merekomendasikan Ustadz Abdul Somad dan Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres, tapi Ketua Umum Gerindra memilih Sandiaga Uno.
Pilpres yang diikuti dua pasangan membuat masyarakat terbelah. Polarisasi mewarnai pertarungan hingga berdampak pada maraknya permainan isu SARA, politik identitas, sentimen asing, hingga tuduhan PKI. Isu SARA dan politik identitas mencuat sejak Pilkada DKI Jakarta 2017, lalu berimbas ke Pilpres 2019.
“Pertama kali dalam sejarah pemilu kita diwarnai oleh politik identitas yang melebihi takarannya. Juga pertama kali terjadi banyak korban jiwa, baik karena kekerasan maupun bukan,” terang Ketua Umum Partai Demokrat juga Presdien ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato politik refleksi 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Cegah demonstrasi apalagi ‘show of force‘ identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham, dan polarisasi politik yang ekstrem,” begitu sepenggal petikan surat SBY.
Sebelum Pemilu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga mengingatkan politikus tak menggunakan agama untuk kepentingan politik pragmatis.
“Jangan memperalat agama, jangan memanipulasi, eksploitasi agama dalam pengertian sisi luarnya itu untuk digunakan sebagai faktor pembenar atau kepentingan politik praktis pragmatis,” papar Lukman.
Masa kampanye, kandidat dan pendukungnya sibuk menyerang lawan dengan isu-isu trivial alias “remeh-temeh” yang jauh dari substansial, minim adu program. Saling serang bukan hanya di dunia nyata, tapi marak juga di media sosial. Hoaks, ujaran kebencian, fitnah, kampanye hitam merajalela. Perang buzzer cebong versus kampret terus bergaung di lini masa.
Cebong dan kampret adalah sebutan satire untuk pendukung Jokowi dan Prabowo. Jokowi dan Prabowo dalam berbagai kampanye terbuka juga saling serang dan sindir. Jelang Minggu tenang, kedua pasangan kampanye akbar di Jakarta. Kampanye Prabowo-Sandi, pada Minggu 7 April 2019, membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno memutih dengan massa pendukung 02. Sepekan kemudian giliran Jokowi-Ma’ruf menggelar aksi serupa di lokasi sama dengan massa tak kalah banyak.
Meski panas saat kampanye, hari pencoblosan Pemilu pada 17 April 2019 berlangsung aman. Namun, ada 527 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dan 11.239 orang dirawat karena sakit diduga akibat kelelahan.
Pasca-pemilihan, kedua pasangan capres saling mengklaim kemenangan. Jokowi mengakui menang setelah melihat hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Tapi, Prabowo mengklaim dirinya menang 62 persen suara dan mengajak pendukung tak percaya quick count yang memenangkan Jokowi.
Selasa 21 Mei 2019 dini hari, KPU mengumumkan Jokowi-Ma’ruf sah sebagai pemenang Pilpres dengan raihan 85.607.362 atau 55,50 persen suara. Prabowo-Sandi hanya meraih 68.650.239 atau 44,50 persen suara. Jokowi-Ma’ruf menang di 21 provinsi, Prabowo-Sandi unggul di 13 provinsi.
Pada 22-23 Mei, massa pendukung Prabowo berunjuk rasa di Jakarta, memprotes hasil Pilpres yang memenangkan Jokowi. Karena Kantor KPU RI dijaga ketat TNI-Polri, massa berdemo di Gedung Bawaslu RI. Demo diwarnai kerusuhan. Bentrokan massa dengan aparat keamanan terjadi di beberapa titik di Jakarta Pusat hingga Jakarta Barat. Sembilan orang tewas, lebih 200 lainnya luka-luka.
“Sembilan korban meninggal dunia kami duga perusuh, penyerang,” beber Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal, pada 11 Juni 2019 lalu.
Polri menetapkan sebanyak 442 tersangka terkait kerusuhan tersebut, tapi tak mampu mengungkap siapa aktor intelektualnya, meski berulang kali menyebutkan ada pihak yang menunggangi.
Prabowo yang semula tak mau membawa sengketa Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK), akhirnya melunak. Mantan Danjen Kopassus itu mengajukan gugatan dan meminta MK mendiskualifikasi Jokowi-Ma’ruf karena dianggap curang. Namun, MK menolak keseluruhan gugatan Prabowo dalam sidang pamungkas, Kamis, 27 Juni 2019, yang diwarnai demo massa pro Prabowo. Pilpres selesai, upaya rekonsiliasi dilakukan. Jokowi dan Prabowo bertemu di Stasiun MRT Jakarta, Sabtu 13 Juli 2019.
“Tidak ada lagi namanya 01, tidak ada lagi namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya ‘cebong’, tidak ada lagi yang namanya ‘kampret’. Yang ada Garuda Pancasila,” papar Jokowi diamini Prabowo.
Minggu 10 Oktober 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta. Jokowi melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua. Setelah 13 hari dilantik, Jokowi mengumumkan 34 menteri Kabinet Indonesia Maju. Satu di antaranya Prabowo. Dia diangkat jadi Menteri Pertahanan.
“Saya kira tugas beliau saya tak usah menyampaikan. Beliau lebih tahu daripada saya,” ucap Jokowi saat memperkenalkan Prabowo sebagai Menhan di Istana Negara, Rabu, 23 Oktober lalu.
Selain Prabowo, Edhy Prabowo juga diangkat Jokowi jadi Menteri Kelaturan dan Perikanan. Edhy Prabowo merupakan Wakil Ketum Gerindra, partai besutan Prabowo yang di Pemilu menjadi lawan Jokowi. Bergabungnya Gerindra dalam koalisi pemerintahan mengakhiri perseteruan di Pemilu, namun menimbulkan kekecewaan bagi sebagian pendukung fanatik Prabowo. (net)

