“Rumah bagi berbagai suku, agama, ras, serta golongan. Toleransi di Kota Bandung terjaga sangat baik. Hal itu sekaligus menepis pernyataan Bandung sebagai kota intoleran dari suatu kalangan masyarakat,”
BANDUNG – CNN
Ribuan warga Bandung sangat antusias untuk mengikuti Parade Bandung Rumah Bersama. Acara ini diikuti oleh sekitar 6000 peserta yang merupakan warga Bandung dan dari beberapa kecamatan yang ada di kota Bandung. Peserta terdiri dari berbagai lintas agama yaitu Islam, kristen, Katolik, Budha, Hindu, konghucu, dan yang lainnya.
Seluruh masyarakat baik peserta ataupun yang menonton parade tersebut berkumpul di Jl. Asia Afrika No. 65, Kota Bandung, tepatnya di depan gedung merdeka.

Defile dari 60 kelompok, sekitar 6.000 peserta dari berbagai komunitas, lembaga, kewilayahan (RW, kelurahan, kecamatan) di Kota Bandung, representasi agama ikut menyemarakan acara tersebut.
Sejumlah kelompok tersebut sempat menampilkan ragam seni dan budaya di depan tenda tamu VIP, seberang Gedung Merdeka. Penampilan beberapa kelompok kental akan unsur atraksi, mengundang perhatian warga yang hadir di lokasi.
Sebelum sesi defile, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) beserta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung mengikrarkan deklarasi Bandung Rumah Bersama, berisi delapan poin.
Ketua FKUB Kota Bandung Ahmad Suherman memandu pembacaan tiap-tiap poin deklarasi. Seluruh tamu undangan, peserta, dan warga turut mengucapkan tiap-tiap poin deklarasi.
Sementara itu, Wali Kota Bandung Oded M Danial mengatakan, gagasan pelaksanaan parade tersebut berasal dari masyarakat. Melalui pelaksanaan parade, seluruh elemen tengah menyampaikan pesan kepada dunia, bahwa Bandung merupakan rumah bersama.
“Rumah bagi berbagai suku, agama, ras, serta golongan. Toleransi di Kota Bandung terjaga sangat baik. Hal itu sekaligus menepis pernyataan Bandung sebagai kota intoleran dari suatu kalangan masyarakat,” kata Oded.
Oded mengumpamakan Kota Bandung sebagai rumah. Pihaknya mengajak kepada berbagai elemen agar merawat beserta membersihkan tiap-tiap ruangan, bagian teras hingga toilet secara bersama-sama
Hal itu merupakan pertanda, seluruh elemen, termasuk warga mempunyai sikap memiliki yang tinggi akan Kota Bandung. Dalam sambutanya, Oded menyampaikan, bahwa ia memosisikan diri sebagai bapak bagi seluruh kalangan, bukan sebatas Wali Kota Bandung.
Dia siap berdiskusi jika ada kelompok yang beranggapan, penyelanggaraan parade sebatas untuk merayakan budaya beserta agama tertentu.
“Demikian pula apabila ada yang mempertanyakan keadaan toleransi di Kota Bandung, mari berdiskusi guna menjaga keamanan, ketentraman, kerukunan, dan ketertiban yang merupakan modal utama pembangunan,” ucap Oded.

Oded berharap, kerukunan antarumat beragam kian erat di Kota Bandung. Kelangsungan seni, dan budaya tradisi juga terus berkembang. Pihaknya berencana menjadikan parade tersebut masuk ke dalam daftar agenda tahunan.
“Ada harapan dari para peserta, parade kembali dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Akan tetapi, kami perlu mengevaluasi penyelengaraan (parade) tadi,” bebernya.
Sedikitnya, lima Kampung toleransi termasuk dalam peserta parade, yakni RW 2 Paledang, Jalan Luna (Kelurahan Jamika), Jalan Sasakgantung (Balonggede), Kompleks Dian Permai (Babakan), RW 8 Kelurahan Kebon jeruk. Perihal keberadaan kampung toleransi, Oded berharap, bisa bertambah secara natural.
“Pertumbuhan, atau kemunculan kampung toleransi di titik-titik lain lebih baik berasal dari kehendak warga setempat. Praktiknya bakal lebih kukuh. Kami siap mendukung, dan membina tiap-tiap kampung toleransi,” tutupnya.
Parade Bandung Rumah Bersama menampilkan berbagai macam parade pertunjukan seni seperti Angklung, Reog, Gambus, Marawis, Calung, Barong, Qosidah, Pencak Silat, Wushu, Marching Band, Paduan Suara, dan lain-lain. (Tik)

